Bisnis

Selain Jerome Polin, Ini 4 Artis Lain yang Bisnisnya Terpaksa Gulung Tikar

×

Selain Jerome Polin, Ini 4 Artis Lain yang Bisnisnya Terpaksa Gulung Tikar

Share this article
Selain Jerome Polin, Ini 4 Artis Lain yang Bisnisnya Terpaksa Gulung Tikar
Selain Jerome Polin, Ini 4 Artis Lain yang Bisnisnya Terpaksa Gulung Tikar

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 15 April 2026 | Penutupan Menantea, jaringan gerai minuman kekinian yang didirikan oleh influencer Jerome Polin bersama kakaknya, menjadi sorotan utama dalam dunia bisnis kreatif Indonesia. Menantea resmi ditutup secara permanen pada 25 April 2026 setelah mengalami kerugian mencapai Rp 38 miliar akibat kegagalan operasional, masalah pajak, dan indikasi fraud internal. Keputusan menutup usaha pada usia lima tahun menandai pelajaran berat bagi para kreator muda yang ingin menggeluti dunia kewirausahaan.

Namun, Menantea bukan satu-satunya contoh kegagalan bisnis di kalangan artis. Selama beberapa tahun terakhir, setidaknya empat figur publik lain mengalami nasib serupa, memaksa mereka menghentikan operasional usaha masing-masing. Berikut ulasan lengkap mengenai latar belakang, penyebab kegagalan, dan dampak yang dirasakan oleh para artis tersebut.

Jerome Polin dan Menantea

Menantea diluncurkan pada 10 April 2021 dengan harapan menghadirkan varian teh premium yang menyasar generasi milenial dan Gen Z. Meskipun sempat mendapat antusiasme tinggi di media sosial, beberapa masalah struktural muncul sejak awal. Kurangnya riset mitra, tidak adanya audit keuangan rutin, serta keterlambatan pembayaran tagihan supplier menimbulkan beban keuangan yang berat. Selain itu, kesalahan pelaporan pajak pada fase awal usaha menambah beban administratif. Upaya perbaikan seperti audit investigasi, pelunasan utang, dan kompensasi karyawan tidak dapat mengembalikan kepercayaan pasar, sehingga penutupan menjadi keputusan akhir.

Empat Artis Lain yang Mengalami Kebangkrutan Bisnis

  • Raisa Andriana – RAISA Boutique: Penyanyi pop Raisa membuka butik fashion bernama RAISA Boutique pada 2018 dengan fokus pada pakaian muslim modern. Meskipun koleksi pertama laris, butik tersebut gagal mengelola rantai pasokan dan mengoptimalkan penjualan online. Pada 2023, akibat penurunan penjualan dan tingginya biaya operasional, Raisa menutup toko fisik dan mengalihkan fokus ke kolaborasi merek lain.
  • Raffi Ahmad – Rafi’s Kitchen: Influencer dan presenter televisi Raffi Ahmad meluncurkan konsep kafe sehat bernama Rafi’s Kitchen pada 2019. Ide menu berbasis nutrisi menarik perhatian, namun kurangnya keahlian manajerial dan persaingan ketat di sektor F&B membuat kafe mengalami kerugian berulang. Pada akhir 2022, Raffi mengumumkan penutupan permanen Rafi’s Kitchen dan mengalihkan investasinya ke platform digital.
  • Bunga Citra Lestari (BCL) – BCL Beauty: Aktor dan penyanyi BCL memulai lini produk perawatan kulit bernama BCL Beauty pada 2020. Produk-produk alami yang dipasarkan melalui media sosial sempat mendapat ulasan positif, namun kegagalan dalam pengelolaan stok dan masalah regulasi BPOM menyebabkan produk ditarik dari pasar. Akibatnya, BCL memutuskan menghentikan produksi pada 2024.
  • Gading Marten – Gading Café & Co‑Work: Aktor Gading Marten membuka ruang coworking dan kafe bernama Gading Café & Co‑Work pada 2021, menargetkan para profesional muda. Meskipun lokasi strategis, kurangnya diversifikasi pendapatan dan penurunan okupansi pasca‑pandemi memperparah kondisi keuangan. Pada pertengahan 2023, Gading mengumumkan penutupan gerai tersebut dan fokus pada proyek film.

Faktor Penyebab Umum

Analisis terhadap kelima kasus mengungkap beberapa pola yang berulang. Pertama, banyak artis mengandalkan popularitas pribadi tanpa melakukan riset pasar mendalam, sehingga produk atau layanan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kedua, manajemen keuangan yang lemah, termasuk kurangnya kontrol atas arus kas, sering berujung pada keterlambatan pembayaran kepada supplier atau pajak. Ketiga, ketidakmampuan mengadaptasi model bisnis digital menjadi hambatan utama, terutama bagi usaha yang mengandalkan toko fisik.

Implikasi bagi Industri Kreatif

Kegagalan bisnis artis tidak hanya memengaruhi reputasi pribadi, tetapi juga memberikan sinyal peringatan bagi ekosistem startup yang semakin banyak melibatkan figur publik. Investor dan mitra bisnis kini menuntut transparansi yang lebih tinggi, audit independen, serta rencana kontinjensi yang solid. Selain itu, pelatihan kewirausahaan bagi kreator konten menjadi kebutuhan penting untuk mengurangi risiko kegagalan serupa di masa depan.

Kesimpulannya, penutupan Menantea dan empat usaha artis lainnya menegaskan pentingnya persiapan operasional yang matang, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta adaptasi digital yang berkelanjutan. Bagi para influencer yang ingin beralih ke dunia bisnis, belajar dari kegagalan ini dapat menjadi fondasi kuat untuk meraih kesuksesan yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *