Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 April 2026 | JAKARTA – Pada 14 April 2026, sebuah insiden baku tembak terjadi di Kampung Kembru, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Menurut Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, total korban jiwa mencapai 15 warga sipil, termasuk seorang balita. Insiden ini memicu kecaman keras dari sejumlah tokoh politik, lembaga legislatif, dan organisasi masyarakat sipil, serta menuntut tindakan cepat dan transparan dari pemerintah.
Data korban yang disampaikan oleh Menteri Pigai dihimpun dari laporan pemerintah daerah, saksi mata, serta korban luka. Angka 15 korban jiwa berbeda dengan laporan awal yang menyebutkan sembilan orang tewas, seperti yang diungkapkan oleh DPD Papua dalam pernyataan bersama pada 21 April. Perbedaan data mencerminkan kompleksitas situasi di lapangan, di mana akses ke beberapa kampung masih terbatas.
Wakil Ketua DPD Papua, Yorrys Raweyai, menegaskan bahwa kejadian ini merupakan akumulasi persoalan struktural yang belum terselesaikan, termasuk kemiskinan, ketimpangan pembangunan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berulang. Ia menambahkan bahwa wilayah Papua Pegunungan dan Papua Tengah tetap menjadi zona paling terdampak konflik antara kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TNPPB).
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menanggapi insiden dengan menuntut pembentukan tim investigasi gabungan yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum. Hasanuddin menekankan pentingnya proses investigasi yang objektif dan bebas dari tekanan politik, serta penyediaan pendampingan bagi keluarga korban.
Selain itu, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengonfirmasi bahwa sembilan warga sipil tewas dalam operasi militer TNI di wilayah yang sama, menambah keragaman data yang ada. KNPB menuduh penggunaan alutsista udara yang memperparah dampak pada pemukiman sipil, dan menyerukan investigasi internasional independen.
Berbagai pihak menyoroti dampak kemanusiaan yang luas. Lebih dari ratusan warga mengungsi ke kampung tetangga, kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan kesehatan. Beberapa korban luka berat kini dirawat di rumah sakit di Jayapura, termasuk satu anak kecil yang membutuhkan perawatan intensif.
Menanggapi tekanan publik, Menteri Pigai menegaskan bahwa identitas pelaku penembakan sudah diketahui oleh masyarakat setempat. Ia mendesak pelaku untuk mengakui perbuatannya dan menyerahkan diri kepada aparat penegak hukum, sebagai langkah penting untuk memulihkan kepercayaan publik.
Dalam konteks kebijakan nasional, Yorrys Raweyai memuji komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat pembangunan Papua, namun menilai bahwa pendekatan saat ini belum dilengkapi dengan strategi dialogis, humanis, dan berbasis keadilan sosial. Ia menuntut pemerintah menyusun “grand design” serta roadmap yang transparan untuk penyelesaian konflik, melibatkan semua unsur masyarakat Papua.
Berikut rangkuman poin-poin utama yang diangkat oleh para pemangku kepentingan:
- Penegakan hukum harus segera dimulai dengan tim investigasi independen.
- Kebutuhan mendesak korban dan keluarga harus dipenuhi, termasuk pendampingan psikologis.
- Pemerintah diminta menyusun rencana komprehensif (grand design) untuk penyelesaian konflik.
- Dialog inklusif melibatkan semua elemen masyarakat Papua perlu diprioritaskan.
- Pengungsi harus mendapatkan akses kembali ke layanan dasar dan bantuan kemanusiaan.
Situasi di Papua Tengah masih tegang, dengan status darurat yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Puncak selama 14 hari. Upaya penanggulangan tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan, melainkan juga pada rekonstruksi sosial‑ekonomi bagi komunitas yang terdampak.
Secara keseluruhan, insiden di Kampung Kembru menegaskan perlunya koordinasi lintas lembaga, transparansi dalam proses investigasi, dan komitmen jangka panjang untuk mengatasi akar penyebab konflik. Hanya dengan langkah-langkah tersebut, keadilan bagi 15 warga sipil terbunuh dapat terwujud, dan rasa aman kembali dirasakan oleh masyarakat Papua.











