Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 30 Juni 2026 | Perusahaan energi terbarukan China, GCL Energy Technology (GCL ET), sedang menjajaki peluang pengembangan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) di Indonesia sebagai bagian dari strategi ekspansi perusahaan di Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu pasar yang mendapat perhatian perusahaan ini, selain Malaysia dan Thailand, karena kedekatannya dengan Singapura, pertumbuhan ekonomi digital, serta potensi sumber daya energi yang mendukung.
Sementara itu, Eropa sedang mengalami kenaikan permintaan pendingin ruangan (air conditioner) karena cuaca panas yang ekstrem. Produsen AC asal China seperti Midea dan Gree melaporkan peningkatan penjualan yang signifikan di negara-negara Eropa. Hal ini juga didukung oleh peningkatan penjualan online melalui platform e-commerce seperti Alibaba.
Di sisi lain, perusahaan teknologi asal China, XGIMI, baru-baru ini meluncurkan kacamata pintar (smart glasses) yang dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan. Namun, fitur ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang privasi dan keamanan data pengguna.
Infoblox, sebuah perusahaan keamanan siber, juga melaporkan bahwa scam (penipuan) online yang menggunakan framework asal China telah menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat dan perusahaan di seluruh dunia. Scam ini dapat menyebar melalui perangkat pribadi dan jaringan kantor, sehingga perusahaan perlu meningkatkan kesadaran dan keamanan siber untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan dan pusat data. Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang privasi, keamanan, dan dampak sosial dari teknologi ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengembangan yang lebih lanjut untuk memastikan bahwa teknologi ini dapat digunakan dengan aman dan bertanggung jawab.











