Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 Juni 2026 | Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi baru terhadap Kuba, yang merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap pulau tersebut. Sanksi ini diberlakukan setelah beberapa bulan sebelumnya pemerintah AS meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba dan memperluas langkah-langkah yang mempersempit ruang gerak negara komunis tersebut.
Presiden Donald Trump sendiri tidak menolak kemungkinan melakukan operasi militer terhadap Kuba, seperti yang telah dilakukan terhadap Venezuela. Ia menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan sangat terlibat dalam isu Kuba dan bahwa Kuba sangat ingin berdialog dengan AS.
Sanksi yang diberlakukan terhadap Kuba ini memperparah kelangkaan bahan bakar dan berdampak pada layanan pasokan listrik, transportasi, produksi pangan, kesehatan, dan pendidikan. Pada pertengahan Mei lalu, Departemen Kehakiman AS mendakwa Raul Castro, mantan presiden Kuba, beserta lima personel militer Kuba atas keterlibatan mereka menembak jatuh dua pesawat yang terkait dengan kelompok eksil Kuba di Miami.
Sementara itu, Iran yang juga terkena sanksi AS, tetap mampu menghasilkan pendapatan miliaran dollar, terutama melalui penjualan minyak ke China. Pemerintah Iran sendiri disebut sangat membutuhkan pelonggaran sanksi karena tekanan ekonomi telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian dan memicu ketidakpuasan publik yang dapat mengancam keberlangsungan pemerintahan dalam jangka panjang.
Kuba sendiri telah menyetujui paket reformasi ekonomi dan sosial yang komprehensif guna memperluas peran modal swasta dan mekanisme pasar seiring dengan krisis ekonomi terburuk yang dialami pulau itu dalam beberapa dekade. Reformasi tersebut mencakup berbagai sektor, termasuk perencanaan ekonomi, hubungan kepemilikan, pertanian, kebijakan tenaga kerja dan upah, energi, investasi asing, perdagangan luar negeri, pariwisata, transportasi, perpajakan, perbankan dan keuangan.
Kesimpulan dari sanksi yang diberlakukan terhadap Kuba dan Iran ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang dianggap menentang kepentingannya. Namun, sanksi tersebut tidak selalu efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkan, seperti yang terlihat pada kasus Iran yang tetap mampu menghasilkan pendapatan miliaran dollar.











