Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 Juni 2026 | Malam 1 Suro merupakan salah satu momen yang memiliki makna spiritual dan budaya yang kuat bagi sebagian masyarakat Jawa. Pada malam ini, banyak orang memanfaatkannya untuk melakukan refleksi diri, meningkatkan kualitas batin, serta memanjatkan doa demi kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.
Dalam berbagai tradisi dan kepercayaan populer, malam 1 Suro juga sering dikaitkan dengan harapan baru, energi positif, serta peluang untuk membuka lembaran kehidupan yang lebih cerah. Tidak sedikit yang meyakini bahwa momentum ini dapat menjadi waktu yang tepat untuk menata tujuan, memperbaiki usaha, dan memperkuat tekad dalam meraih kesuksesan.
Menariknya, terdapat sejumlah prediksi yang menyebutkan bahwa beberapa zodiak berpotensi mengalami perkembangan positif dalam aspek keuangan dan karier pada periode ini. Leo menjadi zodiak pertama yang disebut berpotensi mengalami peningkatan dalam urusan rezeki pada malam 1 Suro.
Karakter Leo yang dikenal fokus dalam bekerja menjadi salah satu alasan mengapa zodiak ini sering dikaitkan dengan pencapaian besar dalam kehidupan profesional. Selain memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, Leo juga dikenal sebagai pribadi yang optimistis dan mampu menjaga komitmen terhadap tanggung jawab yang diembannya.
Sementara itu, di Keraton Yogyakarta, muda-mudi memadati Kagungan Dalem Kemandungan Lor atau Keben Keraton Yogyakarta untuk mengikuti Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng 1 Suro atau tahun baru Jawa 1 Sura Be 1960. Para muda-mudi itu nampak berbaur dengan warga lain dari berbagai usia sejak Selasa (16/6) sekitar pukul 20.00 WIB.
Lonceng di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbunyi 12 kali, menandakan jam menunjukkan pukul 12 malam. Ini jadi tanda Lampah Budaya Mubeng Beteng dimulai. Suasana menjadi sunyi. Kini hanya tinggal derap langkah yang bersuara. Dalam diam, warga memanjatkan doa sesuai kepercayaan masing-masing.
Di sisi lain, warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menggelar tradisi Pendem Sirah Lembu atau mengubur kepala lembu untuk menyambut satu Suro atau satu Muharam. Warga Sumbermujur yang berada di lereng Gunung Semeru percaya, satu Suro adalah hari yang baik untuk memanjatkan doa kepada sang pencipta dan para leluhur, agar seluruh warga desa dilindungi dan diberikan berkah yang melimpah.
Tradisi Pendem Sirah Lembu di Desa Sumbermujur diawali dengan mengarak kepala lembu keliling desa diiringi dengan puluhan gunungan hasil bumi yang dihasilkan dari pertanian warga. Dalam arak-arakan juga diikuti oleh ratusan penari tradisional sebagai simbol kesejahteraan yang dirasakan warga Sumbermujur selama setahun ke belakang.
Kesimpulan dari malam 1 Suro ini adalah bahwa momentum ini dapat menjadi waktu yang tepat untuk menata tujuan, memperbaiki usaha, dan memperkuat tekad dalam meraih kesuksesan. Dengan memanfaatkan energi positif dan harapan baru, diharapkan masyarakat Jawa dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kebahagiaan yang lebih besar.











