Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | JAKARTA — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan kembali beroperasi secara normal bila tercapai kesepakatan damai antara Tehran dan Washington. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers virtual pada Senin, menyusul serangkaian aksi militer yang sempat menutup selat strategis itu selama lebih dari satu minggu.
Menurut Boroujerdi, penutupan sementara Selat Hormuz merupakan langkah taktis Iran untuk menanggapi kebijakan blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker Iran. “Kami menutup selat sebagai respons, namun kami juga siap membuka kembali jalur tersebut bila ada komitmen nyata menuju perdamaian,” ujarnya.
Penutupan itu berdampak signifikan pada aliran minyak dan gas dunia. Selat Hormuz menjadi jalur transit sekitar satu perlima pasokan minyak mentah global, setara dengan 13 juta barel per hari, serta 300 juta meter kubik LNG. Ketika alur ini terganggu, ribuan kapal tanker terperangkap di Teluk, mengakibatkan penumpukan cadangan energi yang mengancam stabilitas harga di pasar internasional.
Berbagai analis, termasuk Ron Bousso dari Reuters, menilai bahwa meski selat dibuka kembali, proses pemulihan aliran energi dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Faktor-faktor yang memperlambat pemulihan meliputi:
- Ketersediaan asuransi untuk kapal tanker yang melintasi zona konflik.
- Penyesuaian tarif pengiriman yang meningkat akibat risiko keamanan.
- Kesiapan operator kapal untuk menempuh rute berbahaya.
- Waktu tempuh yang panjang, misalnya 20 hari dari Timur Tengah ke India atau hingga dua bulan ke China, Jepang, dan Korea Selatan.
Selain tantangan logistik, produksi energi juga terhenti. Beberapa ladang minyak dan kilang di Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab harus menghentikan operasionalnya selama ketegangan. Untuk menyeimbangkan kembali armada tanker global, diperkirakan diperlukan minimal 8 hingga 12 minggu, sementara volume minyak yang masih terperangkap diperkirakan mencapai 170 juta barel serta 1,2 juta ton LNG.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa negosiasi masih berlangsung, namun ia tidak menutup kemungkinan melanjutkan aksi militer bila aliran energi kembali terancam. Sementara itu, pemerintah Iran menegaskan akan menutup kembali selat jika Amerika Serikat melanggar gencatan senjata yang telah disepakati.
Kondisi geopolitik ini menambah tekanan pada pasar energi global, yang sebelumnya sudah dipengaruhi oleh fluktuasi permintaan pasca-pandemi. Negara‑negara konsumen utama, terutama di Asia, harus menyiapkan cadangan tambahan atau mencari alternatif pemasok untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Hormuz.
Secara keseluruhan, meskipun harapan diplomatik terus diupayakan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa normalisasi penuh jalur energi tidak dapat terjadi dalam semalam. Kunci utama adalah tercapainya perdamaian yang berkelanjutan antara Iran dan Amerika Serikat, yang pada gilirannya akan membuka kembali Selat Hormuz secara stabil dan menurunkan tekanan pada harga minyak dunia.
Dengan demikian, pernyataan Boroujerdi menegaskan bahwa kondisi selat sangat bergantung pada dinamika politik internasional. Jika dialog berhasil, Selat Hormuz dapat kembali menjadi jalur transit utama tanpa gangguan, memberi sinyal positif bagi pemulihan pasar energi global.











