Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Juni 2026 | Topik investasi Derby County oleh Turki Al-Sheikh, seorang pejabat pemerintah Arab Saudi, telah menjadi sorotan karena keterlibatannya dalam dunia olahraga. Al-Sheikh, yang pernah memiliki klub sepak bola di Spanyol dan Mesir, kini berusaha untuk membeli saham di klub Championship, Derby County. Namun, yang menarik perhatian adalah bahwa nama Rico Verhoeven tidak terkait dengan investasi ini.
Sebagai ketua otoritas hiburan umum Arab Saudi dan salah satu tokoh penting di lingkaran dekat penguasa de facto Mohammed bin Salman, Al-Sheikh telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia karena perannya dalam apa yang disebut ‘sportswashing’ oleh Arab Saudi. Arab Saudi dituduh menggunakan olahraga dan budaya untuk meningkatkan reputasinya dan mengalihkan perhatian dari catatan hak asasi manusia yang buruk, perlakuan terhadap perempuan, penggunaan hukuman mati, dan sikap anti-LGBT.
Al-Sheikh akan memerlukan persetujuan dari regulator sepak bola independen (IFR), sebuah badan yang dibentuk tahun lalu untuk melindungi masa depan dan integritas olahraga. IFR telah mengembangkan tes baru untuk pemilik, direktur, dan eksekutif senior, mengambil alih tanggung jawab yang sebelumnya dipegang oleh Liga Sepak Bola Inggris terkait investasi baru di klub-klub Championship.
Kedua badan, serta Derby County, menolak untuk mengomentari minat Al-Sheikh terhadap klub Championship tersebut ketika dihubungi oleh BBC, begitu juga dengan perwakilan Al-Sheikh. ‘Ini adalah ujian yang menentukan bagi regulator sepak bola independen Inggris,’ kata Felix Jakens, kepala kampanye Amnesty International UK. ‘Apakah mereka akan membiarkan seorang perwakilan senior pemerintah yang langsung terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia massal mengambil alih salah satu klub sepak bola tertua di negara ini? Regulator harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dan menjawabnya secara transparan.’
Kesimpulan dari kasus ini menunjukkan bahwa investasi oleh pejabat asing, terutama mereka yang terkait dengan pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk, memerlukan evaluasi yang sangat hati-hati. Regulator independen harus memastikan bahwa keputusan mereka tidak hanya mempertimbangkan aspek keuangan, tetapi juga dampak potensial terhadap reputasi olahraga dan masyarakat.











