Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Juni 2026 | Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berada di zona merah pada sesi pertama perdagangan saham, Jumat, (5/6/2026). Harga saham BBCA ditutup melemah 5,53% menjadi Rp 5.125 per saham. Penurunan ini berlanjut setelah perdagangan kemarin saham BBCA ditutup turun menjadi Rp 5.425 per saham dari penutupan pada 3 Juni 2026 di Rp 5.525 per saham.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa koreksi tidak hanya terjadi di saham BBCA, tetapi juga di saham perbankan lainnya. Ia memperkirakan ada risiko independensi yang menekan pergerakan emiten perbankan. Selain itu, outflow di BBCA sekitar Rp 23 triliun year to date (Mei 2026) juga menjadi salah satu faktor penentu.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sukses membukukan total laba bersih senilai Rp 14,7 triliun pada kuartal I 2027. Raihan laba bank dengan kode saham BBCA ini didorong oleh pertumbuhan kredit positif mencapai Rp 994 triliun, atau naik 5,6 persen secara tahunan (YoY). Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong menyampaikan, penyaluran kredit tersebut didukung pendanaan yang solid, dengan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2 persen YoY.
Penurunan saham BBCA ini juga dipengaruhi oleh sentimen makro, termasuk kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan rupiah. Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa penurunan saham big banks dipicu oleh dua sentimen utama tersebut.
Saham BBCA dan saham bank lainnya seperti Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh aksi jual bersih asing yang cukup besar. Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), saham BBCA tercatat di level Rp 5.425 atau anjlok 1,81%. Secara tahun berjalan, saham BBCA ambles 32,82%.
Kepemilikan asing terhadap BBCA pada akhir Mei 2026 telah turun 10,07% dibanding akhir Desember 2025. Saat ini, asing memiliki 36,91 miliar lembar saham BBCA. Dengan posisi tersebut, BBCA dan BBRI mencetak rekor harga terlemahnya sejak perdagangan lima tahun lalu.
Kesimpulan, penurunan saham BBCA disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk sentimen makro, outflow, dan aksi jual bersih asing. Namun, kondisi fundamental BBCA masih cukup solid, dengan pertumbuhan kredit positif dan pendanaan yang solid. Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut sebelum membuat keputusan investasi.









