Ekonomi

Harga Emas Dunia Turun, Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia

×

Harga Emas Dunia Turun, Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia

Share this article
Harga Emas Dunia Turun, Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia
Harga Emas Dunia Turun, Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 Mei 2026 | Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Sabtu (23/5) setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Sentimen itu muncul usai Gubernur The Fed Christopher Waller memberi sinyal potensi kenaikan suku bunga di tengah risiko inflasi akibat perang di Iran.

Mengutip Bloomberg, harga emas batangan sempat turun seiring penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Waller menyebut langkah suku bunga berikutnya berpeluang berupa kenaikan atau penurunan, bergantung dampak gejolak energi dari konflik Iran terhadap inflasi.

Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Kondisi suku bunga tinggi biasanya memberi tekanan pada harga emas karena instrumen tersebut tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Di sisi lain, harga emas yang dijual oleh PT Pegadaian (Persero) kembali turun pada perdagangan hari ini, Minggu (24/5/2026). Penurunan ini melanjutkan pelemahan yang sudah dibukukan pada perdagangan Sabtu kemarin. Harga emas Pegadaian turun untuk produk UBS, Antam, dan Galeri24.

Mengutip laman Sahabat Pegadaian, harga emas Pegadaian produk UBS turun menjadi Rp 2.815.000 per gram dari kemarin Rp 2.826.000 per gram. Untuk harga emas Antam juga turun menjadi Rp 2.871.000 per gram dari sebelumnya di angka Rp 2.886.000 per gram.

Sementara itu, harga buyback emas PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam terpantau stagnan dan masih dibanderol Rp2.577.000 per gram pada perdagangan hari ini, Minggu (24/5/2026). Dikutip dari laman Logam Mulia, emas Antam yang dapat dibeli kembali memiliki sertifikat LBMA (London Bullion Market Association) yang diterbitkan perusahaan.

Perhiasan Jatim juga sukses mempertahankan posisinya sebagai primadona ekspor nonmigas nomor satu di wilayah setempat. Produk perhiasan secara konsisten menyumbang 25 persen hingga 35 persen terhadap total ekspor non-migas Jatim setiap bulannya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Erivina Lucky Kristian mengungkapkan bahwa nilai ekspor perhiasan dan permata Jatim mencatat pertumbuhan rata-rata sebesar 53,42 persen dalam tiga tahun terakhir.

Nilai ekspor melonjak signifikan dari USD2,92 miliar pada 2023 menjadi USD4,96 miliar pada 2024, atau naik sebesar 69,94 persen. Tren positif ini berlanjut pada tahun 2025 dengan capaian USD6,86 miliar, yang berarti tumbuh 38,5 persen.

Meroketnya nilai ekspor ini dipicu oleh lonjakan permintaan dari sejumlah negara tujuan utama. Swiss memimpin sebagai tujuan terbesar dengan pangsa pasar dominan mencapai 64,2 persen. Pada tahun 2025, nilai ekspor ke Swiss melonjak 209,20 persen dengan nilai menembus USD 4,40 miliar.

Kesimpulan, harga emas dunia turun karena ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed. Sementara itu, harga emas Pegadaian juga turun pada perdagangan hari ini. Namun, perhiasan Jatim sukses mempertahankan posisinya sebagai primadona ekspor nonmigas nomor satu di wilayah setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *