Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 Mei 2026 | Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 5% pada perdagangan Rabu (20/5) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan pernyataan bahwa pembicaraan negosiasi dengan Iran sudah memasuki tahap akhir.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap pihaknya telah menyampaikan simulasi risiko lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh US$100 per barel kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Luhut, kekhawatiran investor utamanya berkaitan dengan tekanan global yang dapat memengaruhi pasar keuangan dan arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen dan inflasi yang tetap terkendali di kisaran 2,4 persen.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka AS turun ke bawah US$ 100 dan ditutup pada level US$ 98,26 per barel. Kemudian minyak mentah Brent juga turun dan ditutup pada level US$ 105,02 per barel.
Trump mengatakan membatalkan serangan militer baru terhadap Iran untuk memberi waktu bagi diplomasi atas permintaan sekutu Arab Teluk.
Ia mengklaim telah berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Namun, kebuntuan selama beberapa minggu terakhir karena Teheran memblokade Selat Hormuz dan Washington memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Citibank memperingatkan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan di Hormuz. Mereka memperkirakan harga Brent akan mencapai US$ 120 per barel dalam waktu dekat.
Menurut analisis yang diterbitkan Wood Mackenzie, dalam skenario terburuk harga minyak dapat mendekati US$ 200 per barel jika Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun.
Harga akan turun tajam jika AS dan Iran mencapai kesepakatan damai dengan cepat dan membuka Hormuz pada Juni 2026.
Tiga supertanker berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Asia setelah sempat tertahan selama dua bulan akibat konflik militer.
Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran sejak 28 Februari melumpuhkan jalur vital pasokan minyak mentah dunia tersebut.
Dampak konflik menyebabkan penurunan intensitas pelayaran harian secara drastis serta menurunkan harga minyak mentah global saat ini.
Suara.com – Tiga kapal tanker raksasa (supertanker) yang mengangkut jutaan barel minyak mentah menuju pasar Asia dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu waktu setempat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kapal-kapal tersebut sebelumnya sempat terjebak dan terpaksa mengapung di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan dengan total muatan mencapai 6 juta barel minyak mentah Timur Tengah.
Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Korea Selatan, Universal Winner, bergerak keluar dari selat menyusul keberangkatan dua tanker asal China.
Kapal tersebut membawa 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang telah dimuat sejak 4 Maret.
Menurut data Kpler, tanker tersebut sedang berlayar menuju pelabuhan Ulsan, lokasi kilang minyak terbesar milik SK Energy di Korea Selatan, dan dijadwalkan membongkar muatannya pada 9 Juni mendatang.
Terlebih, pihak SK Energy menolak memberikan komentar, sementara juru bicara HMM selaku pemilik dan pengelola kapal belum dapat dihubungi.
Pergerakan tanker China juga mulai menunjukkan progres: Sementara itu, data LSEG memantau sebaliknya, sebuah tanker kosong berbendera Siprus bernama Grand Lady terdeteksi memasuki Selat Hormuz dengan mematikan transpondernya dan kini sedang membuang sauh di lepas pantai Dubai.
Sebelum perang berkecamuk, lalu lintas harian di Selat Hormuz tergolong sangat padat dengan rata-rata 125 hingga 140 perlintasan kapal per hari.
Imbas konflik ini, sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di dalam Teluk di atas ratusan kapal kargo yang tidak bisa keluar.
Analisis Reuters terhadap data pelacak satelit SynMax dan Kpler menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, intensitas pelayaran menyusut tajam hingga hanya menyisakan rata-rata 10 kapal yang keluar-masuk per hari.
Kesimpulan, harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Trump mengklaim negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Namun, kebuntuan masih terjadi karena Teheran memblokade Selat Hormuz dan Washington memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.











