Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 Mei 2026 | Petenis Jannik Sinner kembali menunjukkan dominasinya di dunia tenis dengan memenangkan gelar Italian Open, mengalahkan Casper Ruud di final dengan skor 6-4, 6-4. Kemenangan ini memperlihatkan bahwa Sinner tidak lagi sekadar bersaing di papan atas, melainkan mulai membangun dominasi baru dalam tenis putra dunia. Dengan kemenangan ini, Sinner juga melengkapi “Golden Masters”, pencapaian langka dengan menjuarai seluruh turnamen Masters 1000 ATP, yang sebelumnya hanya Novak Djokovic yang mampu mencapainya.
Sinner menjadi petenis putra Italia pertama yang menjuarai turnamen Roma sejak Adriano Panatta melakukannya lima dekade lalu. Semua catatan ini menjadikan Paris sebagai panggung berikutnya yang terasa begitu dekat untuk ditaklukkan. Roland Garros akan dimulai akhir pekan depan dan Sinner menatapnya dengan modal 29 kemenangan beruntun di semua turnamen serta 34 kemenangan berturut-turut di level Masters 1000.
Musim lalu, Sinner sebenarnya nyaris mengangkat trofi Roland Garros sebelum kalah dramatis dari Carlos Alcaraz setelah gagal memanfaatkan tiga championship point di final. Kekalahan itu menjadi luka besar dalam kariernya, namun juga membentuk kematangan baru. Kini dia datang ke Paris dengan permainan yang lebih stabil, mental yang lebih kuat, dan situasi kompetisi yang menguntungkan karena Alcaraz tengah dibekap masalah kebugaran.
Lawan yang dihadapi di final, Casper Ruud, merupakan salah satu spesialis lapangan tanah liat dengan kemenangan terbanyak di permukaan tersebut sejak 2020. Namun sekali lagi, petenis Norwegia itu gagal menemukan cara menghentikan agresivitas dan konsistensi Sinner dari baseline. Ruud bahkan mengibaratkan dominasi Sinner saat ini seperti era keemasan tiga legenda tenis dunia.
Pernyataan Ruud memperlihatkan satu hal penting, bahwa Sinner kini bukan lagi penantang, melainkan sudah berubah menjadi standar baru yang harus dikejar pemain lain. Dan jika performanya tetap terjaga, gelar di Paris tampaknya hanya tinggal menunggu waktu.
Dalam wawancara, Sinner menegaskan bahwa dia harus menjaga kondisi karena turnamen terpenting tahun ini akan segera datang. Dia tidak ingin memberi tekanan berlebihan kepada diri sendiri karena tekanan itu akan datang dengan sendirinya. Ucapan ini menggambarkan perubahan sikap Sinner, dari talenta muda yang emosional menjadi petenis matang yang memahami cara mengelola ekspektasi besar.
Dengan kemenangan ini, Sinner semakin memperkuat posisinya sebagai kandidat terkuat untuk memenangkan Roland Garros. Dia telah menunjukkan konsistensi dan kemampuan untuk mengalahkan lawan-lawan tangguh, dan dia siap untuk menghadapi tantangan berikutnya di Paris.











