<p Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.470–Rp17.530 per dolar AS. Hal ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan ekonom tentang kondisi perekonomian Indonesia saat ini.
Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 Mei 2026 |
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah sebelum libur panjang terjadi di tengah sentimen pasar global yang masih rapuh. Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal.
Fokus pasar tertuju pada pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan strategis tersebut diharapkan membahas ketegangan dagang hingga rantai pasokan global, di tengah keraguan pasar akan kesepakatan damai yang langgeng.
Di sisi domestik, meski pasar memasuki periode cuti bersama pada Kamis dan Jumat, Bank Indonesia (BI) dipastikan tetap berada di pasar untuk melakukan stabilisasi. BI juga terus melakukan intervensi di pasar offshore secara berkesinambungan mulai dari pasar New York, Asia, hingga Eropa.
Ekonom UGM, Eddy Junarsin, mengatakan bahwa kemungkinan rupiah menguat masih ada. Apresiasi dan depresiasi rupiah tergantung dari berbagai kombinasi faktor, baik domestik maupun global. Ia juga mengatakan bahwa intervensi terbatas tentu dapat dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, namun itu tidak bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Sejarah pergerakan Rupiah mencatat sejarah pasang surut ekonomi sejak awal kemerdekaan. Krisis moneter 1998 menjadi titik terendah dalam sejarah pergerakan Rupiah. Tantangan global membayangi pergerakan Rupiah di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan sekadar angka di papan bursa. Nilai tukar rupiah ini adalah cerminan jatuh bangunnya ekonomi Indonesia. Sejak merdeka hingga saat ini, mata uang Garuda telah melewati berbagai badai, mulai dari sanering, krisis moneter 1998, hingga tekanan global yang kini membayangi pemerintahan Prabowo Subianto.
Kesimpulan dari kondisi ini adalah bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk menguat, namun perlu didukung oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global. Intervensi terbatas dari Bank Indonesia dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah, namun tidak bisa dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dan meningkatkan nilai tukar rupiah.











