Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Pagar Alam, Sumatra Selatan – Sekelompok kolam ikan di beberapa kawasan permukiman kota ini tiba‑tiba berubah warna menjadi merah menyala setelah hujan deras melanda pada malam hari kemarin. Peristiwa yang semula menimbulkan kepanikan dan spekulasi di kalangan warga, kini telah terungkap penyebabnya melalui penyelidikan tim pemadam kebakaran, dinas lingkungan hidup, dan relawan masyarakat.
Menurut keterangan pejabat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, fenomena perubahan warna air tidak disebabkan oleh kontaminasi kimia industri atau limbah berbahaya. Pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada peningkatan kadar logam berat atau bahan beracun dalam sampel air kolam. Sebaliknya, analisis laboratorium mengidentifikasi keberadaan pigmen merah yang umumnya terdapat dalam cat berbasis minyak.
Setelah menelusuri jejak kejadian, tim investigasi menemukan bahwa pada sore hari sebelum hujan, sejumlah warga di kawasan tersebut melakukan pencucian drum bekas cat minyak di area terbuka dekat kolam. Drum‑drum tersebut sebelumnya dipakai untuk mengangkut cat tembok dan cat kendaraan. Selama proses pencucian, sisa cat yang menempel pada dinding drum larut dan mengalir ke tanah, kemudian terserap ke dalam sistem drainase yang terhubung langsung dengan kolam ikan.
Ketika hujan deras turun, aliran air menggerakkan limpahan cat yang masih berada di saluran pembuangan, sehingga warna merah pekat terbawa masuk ke dalam kolam. Warga yang menyaksikan perubahan warna tersebut sempat mengira adanya fenomena alam aneh atau bahkan aksi vandalisme. “Awalnya kami pikir ada yang meneteskan tinta atau bahan kimia berbahaya,” ujar Budi Santoso, salah satu warga yang tinggal di sekitar kolam.
Petugas Dinas Kesehatan setempat segera melakukan survei untuk menilai dampak kesehatan pada ikan dan masyarakat. Hasil sementara menunjukkan bahwa meskipun warna air berubah, tingkat oksigen terlarut tetap berada pada ambang aman, dan tidak ditemukan kematian massal ikan dalam waktu 24 jam pertama. Namun, para ahli menekankan bahwa paparan jangka panjang terhadap pigmen cat yang mengandung pelarut organik dapat berdampak pada kualitas air dan kesehatan ekosistem perairan.
- Langkah darurat yang diambil meliputi: penyemprotan air bersih ke kolam untuk mengencerkan pigmen, penarikan sampel air untuk analisis laboratorium, dan pemasangan papan peringatan bagi warga.
- Tim Dinas Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memantau curah hujan selanjutnya dan potensi aliran limbah serupa.
- Warga diminta untuk tidak mencuci bahan berbahaya di area terbuka dan diarahkan ke fasilitas pembuangan limbah berbahaya yang tersedia di kota.
Pemerintah kota Pagar Alam menegaskan komitmennya untuk meningkatkan fasilitas pengelolaan limbah domestik, termasuk penambahan titik pengumpulan drum bekas cat dan sosialisasi cara aman membuang sisa cat. “Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk memperkuat regulasi lingkungan serta edukasi kepada masyarakat,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dr. Siti Nurhayati.
Selain itu, para ahli lingkungan menyoroti pentingnya kesadaran warga dalam menjaga kebersihan dan keamanan perairan. “Setiap tindakan kecil, seperti mencuci drum cat di halaman rumah, dapat berakumulasi menjadi masalah yang lebih besar ketika digabungkan dengan faktor alam seperti hujan lebat,” ujar Prof. Ahmad Fauzi, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sriwijaya.
Dengan penyelidikan yang selesai, pihak berwenang berharap peristiwa serupa tidak terulang. Pengawasan lebih ketat terhadap pembuangan limbah cair domestik dan peningkatan sarana sanitasi menjadi prioritas utama. Warga pun diimbau untuk melaporkan aktivitas mencurigakan yang dapat mengancam kualitas air dan kesehatan lingkungan.
Kejadian kolam ikan berwarna merah ini menjadi contoh nyata bagaimana interaksi antara aktivitas manusia dan kondisi cuaca ekstrem dapat menghasilkan fenomena tak terduga. Melalui tindakan cepat dan kolaborasi lintas‑instansi, Pagar Alam berhasil mengendalikan situasi dan mengembalikan kondisi normal bagi ekosistem perairan kota.







