Politik

Trump Kembali Ancam Pecat Powell, Sementara Purbaya Prediksi Defisit APBN Turun 2,8%

×

Trump Kembali Ancam Pecat Powell, Sementara Purbaya Prediksi Defisit APBN Turun 2,8%

Share this article
Trump Kembali Ancam Pecat Powell, Sementara Purbaya Prediksi Defisit APBN Turun 2,8%
Trump Kembali Ancam Pecat Powell, Sementara Purbaya Prediksi Defisit APBN Turun 2,8%

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menonjolkan sikap keras terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Dalam wawancara dengan Fox Business pada Rabu 15 April 2026, Trump menegaskan bahwa jika Powell tidak mengundurkan diri sebelum batas waktu yang ia tetapkan, ia akan memecatnya. Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan laporan bahwa masa jabatan Powell sebagai Ketua Fed akan berakhir pada 15 Mei 2026, sementara masa jabatan sebagai anggota dewan gubernur tetap berjalan hingga 2028.

Trump menyatakan, “Saya harus memecatnya, oke, jika dia tidak pulang tepat waktu. Saya sudah menahan diri untuk tidak memecatnya, tapi saya tidak ingin menimbulkan kontroversi. Saya ingin menghindari kontroversi, tapi dia akan dipecat.” Sikap ini menambah ketegangan politik di dalam gedung Putih, mengingat Powell masih berada di tengah penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ) terkait dugaan pembengkakan biaya renovasi gedung Fed.

Powell menolak untuk mundur, menegaskan bahwa ia akan tetap menjabat sampai proses penyelidikan selesai. Ia juga mengingatkan bahwa The Fed memiliki mekanisme untuk menunjuk seorang Ketua pro tempore jika posisi Ketua tetap kosong setelah masa jabatan resmi berakhir. Sementara itu, Trump telah mencalonkan mantan bankir Kevin Warsh sebagai pengganti Powell. Warsh dijadwalkan menghadiri sidang konfirmasi di Komite Perbankan Senat pada 21 April, namun menghadapi perlawanan kuat dari beberapa senator, termasuk Thom Tillis (R‑NC), yang berjanji menunda konfirmasi sampai investigasi DOJ selesai.

Penggantian Powell tidak hanya menjadi isu kebijakan moneter, melainkan juga mencerminkan upaya Trump untuk menekan independensi bank sentral. Sejumlah analis menilai bahwa intervensi politik semacam ini dapat menurunkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter AS, terutama pada masa di mana inflasi masih menjadi perhatian utama.

Di sisi lain, dalam ranah fiskal Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal positif kepada komunitas internasional. Pada pertemuan dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC pada 14 April 2026, Purbaya menyampaikan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2026 diproyeksikan turun menjadi sekitar 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih baik dari perkiraan awal sebesar 2,9 persen.

S&P menyambut baik proyeksi tersebut, sekaligus menyoroti perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya. Peringkat kredit Indonesia tetap berada di level investment grade BBB dengan outlook stabil, meskipun lembaga tersebut mencatat rasio pembayaran bunga atas utang pemerintah masih berada di atas 15 persen dan memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat penerimaan pajak, yang pada tiga bulan pertama 2026 telah meningkat sebesar 20,7 persen, mencapai Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun. Ia menambahkan bahwa restrukturisasi organisasi pajak dan cukai serta peningkatan kinerja pengumpulan cukai menjadi prioritas utama untuk menjaga defisit tetap di bawah ambang 3 persen PDB.

Berikut rangkuman poin penting dari dua peristiwa utama:

  • Donald Trump mengancam memecat Jerome Powell jika tidak mengundurkan diri sebelum 15 Mei 2026.
  • Powell menolak mengundurkan diri dan akan tetap menjabat sampai penyelidikan DOJ selesai.
  • Kevin Warsh dijadwalkan menghadiri sidang konfirmasi Senat, namun mendapat perlawanan dari senator yang menuntut selesainya penyelidikan.
  • Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit APBN 2026 turun menjadi 2,8% PDB.
  • Penerimaan pajak tahun 2026 meningkat 20,7% pada kuartal pertama.
  • S&P mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil, namun mencatat rasio pembayaran bunga di atas 15%.

Analisis para pakar menunjukkan bahwa dinamika politik di AS dapat menimbulkan volatilitas pasar keuangan global, sementara kebijakan fiskal Indonesia yang lebih disiplin berpotensi memperkuat posisi negara dalam menavigasi ketidakpastian ekonomi dunia. Jika Trump berhasil mengganti Powell dengan Warsh, kebijakan suku bunga The Fed mungkin akan mengalami perubahan arah yang signifikan, berpotensi memengaruhi nilai tukar dolar dan aliran modal ke negara berkembang.

Di Indonesia, penurunan defisit APBN dan peningkatan penerimaan pajak memberi sinyal bahwa pemerintah berhasil mengendalikan tekanan fiskal meski menghadapi tantangan eksternal, seperti potensi gangguan pasokan energi akibat ketegangan di Selat Hormuz. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga rasio utang tetap dalam batas aman, sekaligus meningkatkan investasi publik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Kesimpulannya, sementara Amerika Serikat berada di tengah perseteruan politik yang dapat memengaruhi kebijakan moneter global, Indonesia menunjukkan tanda-tanda kestabilan fiskal yang kuat. Kedua perkembangan ini akan menjadi fokus utama para investor dan pembuat kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *