Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Mei 2026 | Harga minyak global melonjak akibat dinamika geopolitik dan gangguan distribusi. Harga minyak WTI naik 4,90% menjadi US$100,10 per barel pada perdagangan Senin (11/5/2026) pukul 11.38 WIB. Lonjakan ini disebabkan oleh konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Direktur Eksekutif RofirMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa energi kini menjadi isu strategis yang tidak hanya berkaitan dengan komoditas, tetapi juga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Kenaikan harga energi global saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor non-fundamental seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga hambatan distribusi energi global.
Di Indonesia, harga LPG industri nonsubsidi ukuran 50 kilogram tercatat naik sekitar 25%-26% mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco. Harga solar industri nonsubsidi juga mengalami lonjakan signifikan sekitar 77%-84%.
Presiden AS Donald Trump menolak tawaran balasan Iran untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel. Hal ini meningkatkan kekhawatiran ketegangan di Timur Tengah dapat meningkat lagi dan semakin mengancam pasokan energi.
Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah Trump menolak proposal damai dari Iran. Pernyataan Trump bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh atau “life support” juga memicu lonjakan harga minyak.
Konflik yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran berdampak signifikan pada harga minyak. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 40% sejak perang pecah. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak di atas USD 100 per barel, serta mengancam stabilitas ekonomi dunia dan inflasi bahan bakar.
Kesimpulan, harga minyak global memanas akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi. Kenaikan harga energi global berdampak signifikan pada harga LPG dan solar di Indonesia. Ketegangan AS-Iran kembali memanas dan memicu lonjakan harga minyak dunia.











