Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Mei 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sedikitnya tiga orang meninggal di kapal pesiar yang sedang berlayar di Samudra Atlantik. Penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius itu pun menceritakan bagaimana kondisi kapal.
Arsip – Kapal berbendera Belanda MV Hondius berlayar di Samudra Atlantik dekat Pulau Saint Helena pada 24 April 2026. Kapal tersebut saat ini berlayar menuju Kepulauan Canary setelah mendapat izin dari Spanyol. WHO menilai risiko penyebaran hantavirus, termasuk di Kepulauan Canary, relatif rendah.
Para pejabat WHO mengatakan sejauh ini lima kasus telah dikonfirmasi terkait virus Andes, yakni strain hantavirus yang dalam kasus langka dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan. Kasus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius dan diagnosisnya dikonfirmasi melalui pengujian di Afrika Selatan dan Swiss.
Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO Abdirahman Mahamud mengatakan pasien yang terinfeksi harus tetap diisolasi, sementara individu yang terpapar perlu menjalani pemantauan aktif hingga 42 hari, meski penerapannya dapat berbeda di tiap negara.
Menurut dia, sejumlah negara mungkin menerapkan karantina institusional, sementara negara lain mengandalkan pemantauan kesehatan harian oleh petugas kesehatan. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan PBB itu telah memberi tahu 12 negara yang warganya ikut kapal pesiar tersebut dan sebelumnya turun di Saint Helena.
Ke-12 negara itu adalah Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turkiye, Inggris, dan Amerika Serikat. Tedros mengatakan dua kasus pertama yang dikonfirmasi sempat melakukan perjalanan melalui Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum menaiki kapal, termasuk mengunjungi lokasi pengamatan burung yang diketahui memiliki tikus pembawa virus Andes.
Kapal pesiar MV Hondius memulai pelayarannya dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026 dalam perjalanan ekspedisi kutub yang direncanakan berakhir di Canary Islands. Kapal berbendera Belanda ini dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions dan membawa sekitar 150 penumpang dan kru dari lebih dari 20 negara.
Mengutip Newsweek, dari Ushuaia, kapal bergerak ke wilayah Antartika untuk menjalani tur ekspedisi di kawasan kutub selatan, termasuk mengunjungi sejumlah lokasi terpencil yang biasa menjadi tujuan wisata ilmiah dan petualangan. Setelah meninggalkan kawasan Antartika, kapal melanjutkan pelayaran menuju South Georgia, pulau terpencil di Atlantik Selatan yang dikenal sebagai lokasi penelitian satwa liar dan sejarah ekspedisi kutub.
Dari sana, perjalanan diteruskan ke beberapa pulau kecil di Samudra Atlantik, termasuk Saint Helena dan Ascension Island. Menurut otoritas kesehatan Afrika Selatan, kapal juga sempat singgah di Nightingale Island dan Tristan da Cunha, dua pulau terpencil di Atlantik Selatan yang memiliki akses sangat terbatas.
Dalam tahap akhir pelayaran, MV Hondius bergerak ke arah utara menuju pesisir Cape Verde pada awal Mei. Namun saat wabah hantavirus mulai terdeteksi di atas kapal dan beberapa penumpang mengalami gejala gangguan pernapasan serius, otoritas Cape Verde menolak memberikan izin sandar karena alasan kesehatan publik.
Kesimpulan, wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan kejadian yang serius dan memerlukan perhatian dari organisasi kesehatan internasional. WHO telah mengambil langkah-langkah untuk mengontrol penyebaran virus dan memantau situasi di kapal. Penumpang dan kru kapal harus tetap waspada dan mengikuti instruksi dari otoritas kesehatan untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.











