Kriminal

10 Luka Mengerikan yang Ditemukan pada Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban Balita Kediri

×

10 Luka Mengerikan yang Ditemukan pada Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban Balita Kediri

Share this article
10 Luka Mengerikan yang Ditemukan pada Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban Balita Kediri
10 Luka Mengerikan yang Ditemukan pada Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban Balita Kediri

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 16 April 2026 | Kediri kembali diguncang oleh kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa seorang balita berinisial NIZ (atau MA) berusia empat tahun. Di balik tragedi tersebut, keluarga korban mengungkapkan secara rinci sepuluh luka yang terlihat pada tubuh Zahra Lantong, saudara perempuan korban yang sekaligus menjadi tante bagi sang balita. Menurut kesaksian keluarga yang menyaksikan secara langsung, semua luka tersebut tampak konsisten dengan pola penganiayaan berulang, termasuk bekas pemukulan, memar, dan tekanan berlebih pada bagian tubuh tertentu.

Penemuan luka-luka ini terjadi setelah jenazah balita dibawa ke rumah duka untuk proses pemakaman, sementara pihak kepolisian melakukan otopsi di Rumah Sakit Bhayangkara. Keluarga yang berada di lokasi mengamati kondisi Zahra Lantong secara seksama sebelum jenazah dipindahkan. Berikut adalah rangkuman sepuluh luka yang disebutkan oleh keluarga, lengkap dengan lokasi dan karakteristik masing‑masing luka.

  1. Luka memar di pelipis kiri – area pelipis menunjukkan memar berwarna ungu tua yang tampak baru terjadi, menandakan adanya benturan kuat pada kepala.
  2. Memar meluas pada perut bagian atas – terdapat bekas memar luas berwarna merah tua di area perut, mengindikasikan tekanan berulang atau pukulan keras.
  3. Bekas sundutan rokok pada leher – jejak bekas pita rokok yang menempel pada kulit leher, menandakan tindakan menyundut atau menekan leher dengan benda keras.
  4. Memar pada lengan kanan atas – lengan menunjukkan memar bergelombang, konsisten dengan pukulan berulang.
  5. Memar pada lengan kiri bawah – area lengan kiri bawah memar berwarna kehijauan, mengindikasikan benturan dengan benda keras.
  6. Luka lebam pada punggung bagian bawah – area punggung bawah terdapat lebam besar yang tampak menyeret, menandakan tekanan berlebih atau penendangan.
  7. Memar pada kedua paha – paha kanan dan kiri menunjukkan memar berwarna biru kehitaman, menandakan penendangan atau pemukulan.
  8. Luka gores pada pergelangan kaki – terdapat goresan linear pada pergelangan kaki kanan, kemungkinan akibat pengikatan atau penggunaan benda tajam.
  9. Bekas sayatan pada dada bagian tengah – pada area dada terdapat sayatan kecil berwarna merah muda, menimbulkan kecurigaan akan tindakan memotong atau mencoret.
  10. Memar pada punggung tangan – punggung tangan kanan tampak memar luas, mengisyaratkan penekanan atau pemukulan keras.

Selain mengidentifikasi luka‑luka tersebut, keluarga menegaskan bahwa semua luka muncul dalam rentang waktu yang singkat sebelum korban ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mengamati bahwa korban tampak dalam kondisi “basah kuyup” dengan pakaian yang masih basah, menambah kecurigaan adanya tindakan penyiksaan yang melibatkan air atau cairan lain.

Polisi setempat, dipimpin oleh AKP Achmad Elyasarif Martadinata, telah mengamankan tiga anggota keluarga korban—ibu kandung, ayah tiri, dan nenek—untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Penyidikan masih berlangsung dan hasil visum belum dipublikasikan secara resmi. Namun, pihak berwenang telah menegaskan bahwa semua bukti di lokasi kejadian, termasuk jejak memar dan bekas sundutan rokok, akan menjadi fokus utama dalam menentukan apakah kasus ini merupakan bentuk KDRT atau kejahatan lain yang lebih berat.

Warga sekitar Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, mengaku terkejut dan sedih menyaksikan proses pemakaman yang berlangsung dengan suasana haru. Mereka menambahkan bahwa tidak ada suara atau tanda-tanda kegaduhan sebelum penemuan mayat, sehingga penemuan luka-luka tersebut menjadi faktor utama yang menimbulkan kecurigaan akan adanya penganiayaan tersembunyi di dalam rumah.

Kasus ini menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia yang menuntut penegakan hukum lebih tegas serta perlindungan anak yang lebih optimal. Pemerintah daerah dan lembaga perlindungan anak diharapkan dapat memperkuat mekanisme pelaporan dan intervensi dini guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Dengan bukti visual yang kuat dan kesaksian keluarga yang menyatakan telah melihat langsung sepuluh luka tersebut, tekanan publik terhadap aparat penegak hukum semakin tinggi untuk menyelesaikan kasus ini secara transparan dan adil. Masyarakat menanti hasil penyelidikan dan harapan agar para pelaku, bila terbukti bersalah, dapat dijatuhi hukuman yang setimpal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *