Daerah

Santi Yusuf, Peternak Ayam Petelur Gorontalo Bertahan 20 Tahun: Inspirasi Ekonomi Keluarga

×

Santi Yusuf, Peternak Ayam Petelur Gorontalo Bertahan 20 Tahun: Inspirasi Ekonomi Keluarga

Share this article
Santi Yusuf, Peternak Ayam Petelur Gorontalo Bertahan 20 Tahun: Inspirasi Ekonomi Keluarga
Santi Yusuf, Peternak Ayam Petelur Gorontalo Bertahan 20 Tahun: Inspirasi Ekonomi Keluarga

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | Gorontalo, 29 April 2026 – Santi Yusuf, seorang peternak ayam petelur asal desa Bongo, telah menapaki jejak kesuksesan selama dua dekade. Berawal dari sekadar hobi mengurus beberapa ekor ayam di pekarangan rumah, kini usaha Santi menjadi contoh nyata pemberdayaan ekonomi keluarga di wilayah timur Indonesia.

Selama 20 tahun terakhir, Santi berhasil mengembangkan peternakan menjadi skala mikro yang konsisten menghasilkan telur berkualitas. Dengan memanfaatkan lahan terbatas, ia mengadopsi sistem kandang bertingkat yang efisien, sehingga dapat menampung 200 ekor ayam petelur sekaligus. Pendekatan ini sejalan dengan tren ide usaha ternak petelur yang kini banyak dianjurkan untuk program Ibu‑ibu PKK, dimana fleksibilitas waktu dan modal relatif kecil menjadi keunggulan utama.

Keberhasilan Santi tidak terlepas dari beberapa faktor kunci:

  • Manajemen pakan yang terkontrol. Menggunakan campuran pakan berbasis jagung, dedak, dan suplemen vitamin, ia memastikan konversi pakan optimal sehingga produksi telur tetap tinggi.
  • Pencegahan penyakit secara rutin. Vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan mingguan mengurangi mortalitas ayam hingga di bawah 2%.
  • Pemasaran langsung ke konsumen. Telur dijual ke tetangga, warung setempat, serta koperasi PKK yang menyalurkan ke pasar tradisional.

Model usaha Santi selaras dengan inisiatif pemerintah daerah yang menyiapkan proyek hilirisasi ayam senilai Rp1,4 triliun di Gorontalo. Meskipun dokumen proyek masih dalam tahap finalisasi lahan, potensi sinergi antara peternak kecil dan industri hilirisasi menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan.

Program PKK di wilayah tersebut telah mengintegrasikan ide usaha ternak petelur sebagai salah satu program unggulan. Panduan praktis yang disebarluaskan meliputi cara memulai dengan 5‑10 ekor ayam, penataan kandang, serta strategi penjualan. Santi menjadi narasumber dalam pelatihan tersebut, berbagi pengalaman mengelola limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sayuran keluarga.

Selain aspek ekonomi, keberlanjutan lingkungan juga menjadi fokus. Dengan mengolah kotoran menjadi kompos, Santi membantu mengurangi pencemaran serta menyediakan pupuk alami bagi kebun sayur di sekitarnya. Pendekatan ini mencerminkan pola usaha terpadu yang disarankan dalam program pemberdayaan perempuan desa.

Berbicara tentang tantangan, Santi mengakui bahwa fluktuasi harga pakan dan pasar telur kadang memberi tekanan pada profitabilitas. Namun, dengan diversifikasi produk—seperti penjualan telur organik dan pemanfaatan limbah—ia berhasil menjaga kestabilan pendapatan. Pendekatan tersebut juga menginspirasi ibu‑ibu PKK lain untuk mengadopsi model serupa, mengingat kebutuhan telur tetap tinggi di seluruh wilayah Indonesia.

Keberhasilan Santi Yusuf tidak hanya menguatkan ekonomi keluarganya, tetapi juga menjadi contoh bagi komunitas pedesaan lain. Sebagai saksi nyata, ia sering diundang ke forum desa untuk memberikan motivasi dan pelatihan teknis. Pada kesempatan terakhir, ia menekankan pentingnya konsistensi, inovasi kecil, serta kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan koperasi.

Dengan dua dekade pengalaman, Santi menatap masa depan yang lebih cerah. Ia berencana menambah 50 ekor ayam petelur lagi dan memperluas jaringan pemasaran melalui koperasi regional. Langkah ini sejalan dengan target provinsi Gorontalo untuk meningkatkan produksi telur domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

Kesimpulannya, cerita Santi Yusuf menegaskan bahwa ketekunan, manajemen yang tepat, serta dukungan institusional dapat mengubah usaha mikro menjadi pilar ekonomi keluarga yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *