Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | AS Roma memasuki fase transisi penting menjelang kompetisi 2026/27, dengan serangkaian langkah strategis yang mencakup akuisisi pemain, perubahan identitas visual, serta dinamika kepelatihan yang semakin menarik. Klub yang dipimpin Gian Piero Gasperini ini menyiapkan skuad yang lebih kompetitif setelah berhasil mengangkat Coppa Italia pada 2008, sekaligus menyiapkan diri untuk bersaing di Serie A serta kompetisi Eropa.
Langkah akuisisi terbaru menambah kedalaman lini serang. Pada bulan April, Roma menutup transfer senilai €25 juta untuk mengamankan hak milik pemain yang menjadi saingan langsung Artem Dovbyk di Ukraina. Meskipun nama pemain belum diumumkan secara resmi, laporan internal mengindikasikan bahwa Roma menandatangani gelandang serang berusia 23 tahun dengan reputasi mencetak gol di liga domestik. Transfer ini diprediksi akan meningkatkan persaingan internal di lini depan, menambah tekanan pada pemain-pemain yang sudah ada untuk mempertahankan performa.
Di sisi kepelatihan, Gasperini baru-baru ini mengungkapkan pandangannya terkait kepergian Claudio Ranieri yang sebelumnya menjabat sebagai konsultan taktis. Gasperini menilai perpisahan Ranieri sebagai peluang bagi Roma untuk menegaskan filosofi permainan yang lebih menyerang dan menekankan fleksibilitas taktik. “Kami menghargai kontribusi Ranieri, namun kini saatnya menyalakan kembali semangat Giallorossi dengan visi kami,” ujar Gasperini dalam konferensi pers di Stadio Olimpico.
Keberhasilan historis klub pada 24 Mei 2008, ketika AS Roma mengangkat Coppa Italia setelah mengalahkan tim rival dalam drama adu penalti, kembali dikenang sebagai tonggak penting. Kemenangan tersebut memperkuat mental juara dalam klub dan menjadi referensi bagi generasi pemain saat ini untuk menargetkan kembali trofi domestik.
Identitas visual klub juga mengalami perubahan signifikan. Mulai musim 2026/27, jersey Roma akan menampilkan kembali monogram klasik “ASR” yang melambangkan Associazione Sportiva Roma. Perubahan crest ini merupakan keputusan pemilik baru, Dan Friedkin, yang ingin mengembalikan simbol tradisional yang sempat digantikan pada 2013 oleh grup investasi Amerika. Crest baru menampilkan gambar Lupa Capitolina yang menyusui Romulus dan Remus, dengan detail lebih halus dan garis tepi kuning yang lebih cerah, menggabungkan elemen sejarah dengan sentuhan modern.
Sementara itu, sorotan pada pemain asal Maroko semakin menguat. Pada 25 April 2026, Neil El Aynaoui mencetak gol pertamanya di Serie A, membawa Roma meraih kemenangan 2-0 atas Bologna. Gol tersebut menandai El Aynaoui sebagai pemain Maroko ketiga yang pernah mencetak gol untuk Giallorossi setelah Medhi Benatia dan Houssine Kharja. Benatia, yang bergabung pada musim 2013/14, mencatat lima gol tanpa kebobolan tim dalam setiap pertandingan yang ia cetak, termasuk brace melawan Catania. Kharja, meski hanya menghabiskan satu musim (2005/06), menyumbang gol krusial melawan Juventus yang menyelamatkan Roma dari kekalahan.
Kontribusi pemain Maroko tersebut tidak hanya meningkatkan keragaman skuad, tetapi juga menambah dimensi taktik. El Aynaoui, yang direkrut dari RC Lens pada musim panas 2025 dengan nilai transfer €23,5 juta, dikenal sebagai gelandang serba bisa yang kini menambah ancaman dalam serangan tengah. Kedatangan pemain berbayar tinggi ini diharapkan memberi keseimbangan antara kreativitas dan kekuatan fisik, terutama di tengah persaingan ketat di Serie A.
Menatap ke depan, AS Roma menyiapkan agenda ambisius: mempertahankan posisi di papan atas Serie A, memperkuat performa di kompetisi Eropa, serta menumbuhkan identitas klub yang lebih kuat lewat simbol dan sejarah. Dengan skuad yang lebih dalam, taktik yang terus disesuaikan, serta semangat baru yang diwakili oleh crest klasik, Roma berharap dapat kembali menjadi pesaing utama di kancah sepak bola Italia dan Eropa.
Kesimpulannya, kombinasi antara strategi transfer, penyesuaian taktik, serta pemulihan identitas visual menandai era baru bagi AS Roma. Dukungan fanatik Roma di Stadio Olimpico bersama kebijakan manajemen yang berorientasi pada tradisi dan inovasi diharapkan akan menghasilkan prestasi yang konsisten dan mengembalikan kejayaan klub ke puncak sepak bola Italia.











