Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 15 April 2026 | UEFA secara resmi menolak semua keluhan yang diajukan oleh FC Barcelona terkait keputusan wasit Istvan Kovacs dan kondisi lapangan pada leg kedua perempat final Liga Champions melawan Atletico Madrid. Penolakan tersebut diumumkan oleh Komite Disipliner UEFA pada 13 April 2026, menutup peluang klub Catalan untuk meninjau ulang insiden kontroversial yang terjadi pada babak pertama di Camp Nou.
Insiden utama yang memicu protes Barcelona adalah dugaan handball oleh bek Atletico Madrid, Marc Pubill, dalam kotak penalti pada babak kedua. Barcelona menilai bahwa pelanggaran tersebut harusnya menghasilkan tendangan penalti serta kartu kuning kedua untuk Pubill. Namun, wasit Kovacs memutuskan bahwa bola belum aktif, sehingga tidak ada penalti yang diberikan. Hansi Flick, pelatih Barcelona, menyatakan kekecewaannya secara terbuka dan menilai keputusan tersebut merugikan timnya secara signifikan.
Selain keputusan wasit, Barcelona juga mengajukan keluhan terkait tinggi rumput di Stadion Metropolitano. Menurut Flick, rumput yang terlalu tinggi dapat menghambat gaya permainan Barcelona yang mengandalkan umpan cepat dan pergerakan dinamis. Klub menuntut agar UEFA memastikan standar tinggi rumput tidak melebihi batas maksimal 30 milimeter.
UEFA merespons dengan jaminan bahwa rumput di Metropolitano akan dipotong menjadi 26 milimeter, masih berada dalam batas yang diizinkan. UEFA juga menambahkan bahwa lapangan akan disiram secara menyeluruh sebelum kickoff dan pada jeda babak pertama untuk menjaga kecepatan permukaan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi pra-pertandingan antara ofisial UEFA dan perwakilan kedua klub.
Presiden Barcelona, Rafa Yuste, menanggapi penolakan UEFA dengan sikap tegas. Yuste menyatakan bahwa klub tidak akan tinggal diam dan sedang mengevaluasi opsi hukum untuk menuntut klarifikasi lebih lanjut. “Tim hukum kami sedang meneliti dasar‑dasar pengaduan ini, dan setelah semua dipertimbangkan, kami akan mengambil langkah yang tepat,” ujar Yuste dalam konferensi pers.
Berikut rangkuman poin‑poin penting terkait protes dan respons UEFA:
- Keluhan utama: keputusan wasit Istvan Kovacs pada dugaan handball Marc Pubill.
- Permintaan tambahan: kartu kuning kedua untuk Pubill dan penalti untuk Barcelona.
- Isu lapangan: tinggi rumput di Metropolitano dianggap terlalu tinggi, dipersiapkan pada 30 mm maksimum.
- Jaminan UEFA: rumput dipotong menjadi 26 mm, disiram sebelum dan saat jeda pertandingan.
- Keputusan UEFA: protes tidak dapat diterima, menutup peluang peninjauan ulang.
- Reaksi Barcelona: mempertimbangkan langkah hukum, menuntut akses rekaman VAR.
Hansi Flick menegaskan bahwa meski isu rumput telah diselesaikan, fokus utama tim tetap pada persiapan taktis melawan Atletico Madrid. Ia menilai bahwa keputusan wasit pada leg pertama tetap menjadi beban psikologis, namun klub harus tetap fokus pada performa di lapangan.
Atletico Madrid, di sisi lain, menyatakan bahwa mereka puas dengan keputusan wasit dan menolak tuduhan manipulasi. Klub mengklaim bahwa bola memang belum aktif pada saat Pubill melakukan kontak, sehingga tidak ada pelanggaran.
Dengan keputusan UEFA yang menolak semua keluhan, Barcelona harus menerima hasil leg pertama dan menyiapkan strategi untuk leg kedua. Pertandingan yang dijadwalkan pada 15 April 2026 di Metropolitano akan menjadi penentu bagi kedua tim dalam upaya melaju ke semifinal.
Secara keseluruhan, penolakan UEFA menegaskan bahwa prosedur protes klub harus memenuhi standar bukti yang ketat, sementara klub yang merasa dirugikan harus mencari alternatif lain, termasuk jalur hukum. Dampak keputusan ini tidak hanya mempengaruhi persiapan teknis, tetapi juga menambah tekanan mental bagi pemain dan staf Barcelona menjelang pertandingan krusial.
Keputusan akhir UEFA memberikan kejelasan mengenai kondisi lapangan, namun tidak menghilangkan rasa frustrasi Barcelona terhadap keputusan wasit. Pertarungan selanjutnya di Metropolitano akan menjadi ujian bagi kemampuan tim dalam mengatasi tantangan non‑teknis dan fokus pada permainan.











