Viral

Ferizka Utami Praktisi Totok Sirih Palembang Viral, Dokter Geram, Praktik Sejak 2012

×

Ferizka Utami Praktisi Totok Sirih Palembang Viral, Dokter Geram, Praktik Sejak 2012

Share this article
Ferizka Utami Praktisi Totok Sirih Palembang Viral, Dokter Geram, Praktik Sejak 2012
Ferizka Utami Praktisi Totok Sirih Palembang Viral, Dokter Geram, Praktik Sejak 2012

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 April 2026 | Seorang wanita bernama Ferizka Utami kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan ia melakukan “totok sirih” pada bayi. Video yang diunggah melalui TikTok menampilkan seorang bayi menangis keras ketika tubuhnya diketuk dengan alat khusus, sementara kepala bayi diusap oleh sang praktisi. Penonton langsung membagi pendapat; sebagian menganggap metode tersebut inovatif, namun banyak pula yang menilai tindakan itu menimbulkan rasa sakit dan melanggar etika perawatan anak.

Ferizka mengklaim telah menjalankan praktik totok sirih sejak tahun 2012, mengklaim bahwa teknik tradisional ini dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, kolik, hingga meningkatkan berat badan pada bayi. Ia menyebutkan bahwa proses tersebut melibatkan penggunaan daun sirih yang dihancurkan menjadi bubuk, kemudian ditaburkan pada area tubuh yang dipijat. Menurutnya, kombinasi tekanan ringan dan aroma sirih dapat menstimulasi peredaran darah serta merangsang sistem saraf bayi.

Namun, respons resmi datang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pada tanggal 25 April 2026, IDAI melalui akun Instagram resminya mengeluarkan pernyataan yang menegaskan pentingnya keamanan dan kelembutan dalam setiap sentuhan pada anak. Organisasi tersebut menyoroti bahwa tangisan keras pada bayi saat dipijat merupakan indikator ketidaknyamanan, bukan sekadar reaksi biasa. “Sentuhan pada anak harus menghadirkan rasa aman, bukan luka atau ketakutan,” tegas pernyataan IDAI.

IDAI juga memberikan panduan praktis bagi orang tua yang ingin memijat bayi secara aman. Berikut rangkuman langkah‑langkah yang disarankan:

  • Pastikan ruangan hangat, tenang, dan bebas gangguan.
  • Tangan pemijat harus bersih, kuku dipotong pendek.
  • Gunakan minyak khusus bayi yang telah teruji, hindari tekanan kuat.
  • Pijat selama 10–15 menit, hentikan segera bila bayi menangis atau tampak tidak nyaman.
  • Hindari teknik “totok” atau pijatan keras yang dapat menyebabkan rasa sakit.

Dokter anak yang mengawasi kasus ini menyatakan keprihatinan mendalam. Mereka menegaskan bahwa pijat bayi bukanlah pengobatan penyakit, melainkan rangkaian stimulasi ringan untuk mendukung tumbuh kembang. Jika dilakukan tanpa standar keselamatan, teknik seperti totok sirih berpotensi menimbulkan cedera mikro pada jaringan lunak, serta memicu stres pada bayi.

Selain itu, pernyataan klarifikasi dari pihak berwenang Palembang menegaskan bahwa tidak ada izin medis resmi yang diberikan kepada Ferizka Utami untuk melakukan terapi tersebut. Pemerintah daerah setempat berjanji akan melakukan investigasi lebih lanjut, termasuk menelusuri latar belakang pendidikan serta sertifikasi yang dimiliki oleh praktisi.

Kasus ini membuka perdebatan lebih luas tentang popularitas metode tradisional yang diangkat ke platform digital. Di satu sisi, video viral dapat menjadi media edukasi, namun di sisi lain, penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan bahaya. Para pakar kesehatan anak menyerukan edukasi publik yang lebih intensif, agar orang tua dapat membedakan antara praktik aman dan praktik yang berpotensi merugikan.

Sejauh ini, Ferizka belum memberikan komentar resmi mengenai kritik yang muncul. Namun, ia tetap menegaskan bahwa niatnya adalah membantu orang tua yang kesulitan mengatasi masalah kesehatan pada bayi. Sementara itu, IDAI terus memantau perkembangan kasus ini, dengan harapan agar regulasi terkait terapi alternatif pada anak dapat ditegakkan secara konsisten di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *