Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Agustus 2026 | Perjuangan kemerdekaan Indonesia penuh dengan kisah kepahlawanan dan pengorbanan. Salah satu tokoh yang terkenal dalam sejarah perjuangan ini adalah Demang Lehman, seorang panglima perang yang berjuang melawan penjajah Belanda di Kalimantan Selatan. Demang Lehman dikenal karena kesetiaannya, kecakapan, dan kepemimpinannya yang luar biasa di medan perang.
Demang Lehman lahir pada tahun 1832 dan merupakan pengawal terpercaya Pangeran Hidayatullah. Ia terkenal dengan semboyan ‘Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing’, yang menegaskan komitmennya untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Ketangguhannya memimpin perang gerilya di hutan lebat, sungai, dan pegunungan Kalimantan Selatan membuat operasi militer Belanda berkali-kali menemui kegagalan total.
Namun, Belanda tidak menyerah. Mereka mengubah taktiknya dengan menggunakan politik adu domba (divide et impera) untuk mengalahkan Demang Lehman. Mereka memanfaatkan jaringan orang lokal atau informan pribumi yang bersedia berkhianat demi imbalan, yang dikenal dengan istilah Londo Ireng. Operasi penangkapan Demang Lehman didalangi oleh Kepala Wilayah Batulicin, Syarif Hamid, yang bekerja sama dengan Belanda demi imbalan jabatan dan uang.
Pengkhianatan tersebut mencapai puncaknya di Batu Punggul, dekat Batulicin, ketika Demang Lehman tengah beristirahat setelah pasukannya mengalami blokade logistik. Sambarani, salah satu antek lokal, membujuk Demang Lehman untuk bermalam di rumahnya. Saat Demang Lehman tidak waspada, komplotan pengkhianat diam-diam mencuri dua senjata pusaka miliknya, yaitu Keris Singkir dan Tombak Kalibalah.
Tanpa senjata pelindung diri, Demang Lehman dikepung dan ditangkap hidup-hidup oleh pasukan kolonial. Ia kemudian dibawa ke Martapura untuk diadili secara kilat oleh Dewan Militer Hindia Belanda dan dijatuhi vonis hukuman mati. Eksekusi gantung secara terbuka digelar di Alun-alun Martapura, dan tubuh tanpa nyawanya kemudian dimakamkan secara rahasia.
Tragedi perjuangan Demang Lehman tidak berhenti pada kematiannya. Berbagai bukti kuat menunjukkan bahwa Belanda melakukan pemenggalan kepala Demang Lehman setelah eksekusi. Tengkoraknya kemudian dibawa ke Belanda dan disimpan di Leids Anatomisch Museum sebagai koleksi penelitian antropologi fisik.
Kisah Demang Lehman dan Londo Ireng merupakan contoh nyata tentang betapa beratnya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan harus menghadapi banyak tantangan dan pengorbanan, termasuk pengkhianatan dari orang-orang yang seharusnya menjadi sekutu.
Sampai hari ini, kisah Demang Lehman dan Londo Ireng masih dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia harus tetap waspada terhadap kepentingan pihak luar yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional.











