Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Agustus 2026 | Suporter River Plate meledak dalam kemarahan setelah kekalahan 0-1 dari Rosario Central di Stadion Monumental, menunjukkan kedalaman krisis yang dihadapi klub sejarah ini. Ketegangan terlihat jelas sejak awal pertandingan, dan penyiar internal yang mengumumkan nama-nama pemain disambut cemoohan keras dari suporter.
Pelatih Eduardo Coudet juga tidak luput dari kemarahan para pendukung, meski intensitas kritik yang ditujukan kepadanya relatif lebih rendah. Satu-satunya gol dalam pertandingan ini datang melalui gol bunuh diri, setelah Nicolas Otamendi mencetak gol ke gawang timnya sendiri, yang menyulut api kemarahan di tribun.
Suporter menyanyikan yel-yel terkenal mereka: “Bergeraklah wahai River, bergeraklah…”, sebelum berubah menjadi cemoohan yang menggelegar pada akhir babak pertama, sebagai ungkapan ketidakpuasan atas performa tim. Meski beberapa peluang tercipta bagi River untuk menyamakan kedudukan, sebuah serangan balik berbahaya yang dipimpin Giovanni Cantizano nyaris menggandakan keunggulan Rosario Central, dan itulah percikan yang meledakkan tribun.
Seruan-seruan meningkat dari seluruh penjuru stadion, mencakup para pemain dan manajemen, sebelum mencapai puncaknya dengan seruan serentak: “Mereka semua harus pergi”. Dengan kekalahan ini, River Plate telah menelan kekalahan kelima secara beruntun di turnamen-turnamen Federasi Sepak Bola Argentina, sebuah rangkaian terburuk dalam sejarahnya selama era profesional.
Rangkaian ini dimulai setelah kekalahan di final Apertura dari Belgrano, berlanjut dengan kekalahan di Superclasico dari rival Boca Juniors. Ketidakpuasan suporter “Millonarios” bermula sejak akhir tahun lalu, ketika tim gagal memenuhi harapan mereka meski Marcelo Gallardo saat itu masih bertahan. Awal tahun 2026 menyaksikan pemecatan pelatih tersukses dalam sejarah klub, yang kemudian digantikan Eduardo Coudet, tetapi hasil terus menurun meski tim mencapai final Apertura.
Di tengah krisis ini, suporter River Plate meminta kepulangan pelatih Ramon Diaz, yang memiliki rekam jejak gemilang bersama River Plate. Diaz menangani tim dalam tiga periode: 1995-1999, 2001-2002, kemudian 2012-2014, dan meraih tujuh gelar domestik dan dua gelar kontinental, termasuk Copa Libertadores pada tahun 1996.
River Plate juga menghadapi persaingan sengit dalam memperebutkan pemain muda Facundo Buonanotte, dengan beberapa klub Argentina dan Spanyol tertarik untuk merekrutnya. Namun, krisis yang dihadapi River Plate saat ini lebih mendesak dan memerlukan perhatian segera untuk mengembalikan kepercayaan suporter dan memperbaiki performa tim.
Krisis River Plate menunjukkan bahwa kunci keberhasilan tim tidak hanya terletak pada pemain dan pelatih, tetapi juga pada manajemen dan dukungan suporter. Oleh karena itu, penting bagi River Plate untuk menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi krisis ini dan kembali menjadi kekuatan dominan di sepak bola Argentina.







