Bencana Alam

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meningkatkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla dan Kekeringan

×

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meningkatkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla dan Kekeringan

Share this article
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meningkatkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla dan Kekeringan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meningkatkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla dan Kekeringan

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 31 Juli 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah meningkatkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di beberapa wilayah Indonesia. Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan menyemai awan potensial menggunakan bahan kimia berupa garam atau natrium klorida (NaCl) untuk mengoptimalkan awan hujan yang ada.

BMKG telah merealisasikan sebanyak 17 proyek operasi untuk karhutla yang mencakup 169 hari operasi dan 290 sorti penerbangan di kawasan rawan. Selain itu, BMKG juga memfokuskan operasi modifikasi cuaca untuk pengisian danau dan waduk di wilayah tangkapan air, seperti Danau Toba di Sumatera Utara, hingga Danau Poso di Sulawesi Tengah, guna menjaga ketersediaan air bersih masyarakat.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan bahwa operasi modifikasi cuaca saat ini sedang dilakukan untuk mitigasi karhutla di beberapa tempat, seperti di Pekanbaru yang baru mulai hari ini dan di Palangkaraya yang juga sedang berjalan. BMKG juga telah mendistribusikan armada pesawat Casa 212 Skadron Udara 4 untuk menyemai awan, termasuk di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, baru-baru ini.

BMKG memperingatkan bahwa 54,5 persen luasan wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, dan curah hujan sudah di bawah normal. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa pola kemarau tidak sama di Indonesia, dan dampak dari El Nino juga tidak seragam di Indonesia karena wilayah kita ini besar sekali.

BMKG juga memprediksi bahwa puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dengan 48,84 persen wilayah Indonesia mencapai puncaknya pada Agustus dan 25,41 persen pada September. Selain itu, sebanyak 437 zona musim (48,77 persen dari luas daratan Indonesia) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

BMKG berharap bahwa dengan operasi modifikasi cuaca ini, dapat mencegah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan di beberapa wilayah Indonesia, dan menjaga ketersediaan air bersih masyarakat.

Kesimpulan, BMKG telah meningkatkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah karhutla dan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia. Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan menyemai awan potensial menggunakan bahan kimia berupa garam atau natrium klorida (NaCl) untuk mengoptimalkan awan hujan yang ada. BMKG berharap bahwa dengan operasi modifikasi cuaca ini, dapat mencegah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan di beberapa wilayah Indonesia, dan menjaga ketersediaan air bersih masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *