Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 24 April 2026 | Ratusan netizen di Indonesia kembali terkejut ketika sebuah video menampilkan sekumpulan siswa dari Medan menyeberangi Sungai Deli menggunakan pipa air yang terbuka. Aksi berbahaya ini terekam dengan jelas, memperlihatkan anak‑anak berusia 9‑12 tahun melangkah hati‑hati di atas struktur logam yang tidak dirancang untuk menampung beban manusia. Rekaman tersebut cepat menyebar di media sosial, memicu perdebatan sengit tentang keselamatan, pendidikan, dan kondisi infrastruktur transportasi di kota‑kota besar maupun daerah terpencil.
Menurut saksi mata yang berada di lokasi, pipa air tersebut merupakan bagian dari jaringan distribusi air bersih yang melintasi sungai pada sore hari. Karena tidak ada jembatan resmi atau perahu penyeberang yang tersedia di dekatnya, warga setempat—termasuk para orangtua yang mengantar anak ke sekolah—memilih cara alternatif tersebut. Video memperlihatkan satu siswa terjatuh namun berhasil bangkit tanpa cedera serius, menambah kekhawatiran akan potensi kecelakaan fatal.
Kejadian ini mengingatkan pada insiden serupa yang terjadi di daerah lain, seperti video viral jalan rusak di Jorong Nenan, Sumatera Barat, di mana seorang guru harus menahan motor di tanjakan curam dengan tanah licin. Kondisi jalan yang hanya berupa tanah selama 5 kilometer dari total 9 kilometer mengakibatkan banyak kendaraan terjatuh, memaksa warga memodifikasi kendaraan untuk melewati medan berbahaya. Sementara di Aceh Utara, 40 murid SD terpaksa menumpang speed boat tanpa mesin untuk menyeberangi sungai menuju sekolah, karena tidak ada jembatan yang tersedia. Kedua contoh tersebut menegaskan pola yang sama: akses pendidikan terhambat oleh infrastruktur transportasi yang tidak memadai.
Para ahli transportasi menilai bahwa penggunaan pipa air sebagai jalur penyeberangan bukan hanya melanggar regulasi keselamatan, tetapi juga menimbulkan risiko kontaminasi air bersih. “Pipa air dirancang untuk menyalurkan cairan, bukan menahan beban manusia,” ujar Dr. Andi Prasetyo, dosen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara. Ia menambahkan bahwa beban dinamis yang dihasilkan oleh gerakan anak‑anak dapat menyebabkan kerusakan struktural, berpotensi mengakibatkan kebocoran atau pecahnya pipa.
Di sisi lain, pihak berwenang Medan mengaku sedang meninjau opsi pembangunan jembatan penyeberangan di lokasi tersebut. Wali Kota Medan, Bobby Nasution, melalui kantor Dinas Perhubungan, menyatakan, “Kami memahami urgensi penyediaan sarana penyeberangan yang aman. Tim kami sedang melakukan survei lapangan dan akan mengajukan proposal anggaran dalam tiga bulan ke depan.” Namun, warga mengkritik lambatnya respons, mengingat bahwa video tersebut telah menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua.
Organisasi non‑pemerintah yang berfokus pada hak anak juga mengeluarkan pernyataan. Yayasan Peduli Anak Indonesia menuntut pemerintah daerah segera menyediakan fasilitas penyeberangan yang layak, serta menegakkan regulasi yang melarang penggunaan infrastruktur utilitas publik untuk tujuan transportasi. “Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan tanpa harus mengorbankan keselamatan mereka,” tegas Ketua Yayasan, Rina Wijaya.
Selain dampak fisik, kejadian ini berdampak pada psikologis siswa. Seorang psikolog anak, Dr. Siti Marlina, menjelaskan bahwa pengalaman menyeberangi sungai dengan cara berbahaya dapat menimbulkan trauma jangka panjang, mempengaruhi konsentrasi belajar dan rasa aman di lingkungan sekolah.
Data statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 30% wilayah perkotaan di Indonesia masih memiliki akses transportasi yang tidak memadai, terutama di daerah pinggiran kota. Hal ini sejalan dengan temuan dari studi Kementerian PUPR yang menyoroti kebutuhan investasi infrastruktur sebesar Rp 1.200 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Kesimpulannya, viral video siswa Medan seberangi Sungai Deli lewat pipa air menjadi cermin nyata dari tantangan infrastruktur transportasi yang mengancam keselamatan anak‑anak Indonesia. Diperlukan langkah konkret dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menyediakan sarana penyeberangan yang layak, memastikan hak anak atas pendidikan yang aman, serta menghindari tragedi serupa di masa mendatang.











