Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 Juli 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat pada perdagangan saham Senin, 20 Juli 2026. IHSG ditutup naik 0,86 persen ke level 6.228. Penguatan IHSG didorong oleh kenaikan signifikan saham sektor perbankan serta sektor energi berkapitalisasi besar.
Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 8,21 triliun dengan volume mencapai 15,06 miliar saham selama sesi berlangsung. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi yang paling banyak diperdagangkan berdasarkan nilai transaksi dengan harga 6.525, naik 50 poin atau 0,77 persen.
Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di level 3.050, melonjak 80 poin atau 2,69 persen, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) di level 4.460, turun 20 poin atau 0,45 persen. Dari sisi volume transaksi, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memimpin dengan kenaikan 11,76 persen ke level 95, disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 3,33 persen ke 155, dan PT Megah Karya Perkasa Tbk (EPAC) yang menguat 5,88 persen ke 72.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai tren jangka panjang IHSG masih berada dalam fase secular uptrend. Berdasarkan grafik bulanan, garis tren naik IHSG sebelumnya telah menyentuh di level 5.318. Menurutnya, IHSG masih ada peluang besar untuk mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) dengan target jangka panjang di level 10.581.
Hal itu lantaran berdasarkan pola historis IHSG terus membentuk higher high. Di sisi valuasi, Nafan menilai IHSG juga masih tergolong undervalued, dengan rasio price-to-earnings (P/E) sebesar 9,10 kali. Level tersebut relatif rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang maupun negara maju.
Nafan memperkirakan IHSG pada 2026 berpotensi menguji level 6.666 pada skenario “wave C”. Sementara itu, dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai level 7.320 atau target “wave 3”. “Sementara berdasarkan skenario pesimis, IHSG diperkirakan akan menguji ‘wave C/2’ di 5.486 sebagai target 2026,” tulis Nafan dalam analisisnya.
Lebih lanjut, berdasarkan Bloomberg Heat Map, Nafan menyebut IHSG secara historis selalu berada di zona bullish pada periode Juli hingga Agustus dalam enam tahun terakhir. Nafan melihat beberapa katalis mulai membaik. Mulai dari sentimen global menjadi lebih kondusif, terutama setelah inflasi Amerika Serikat (AS) melandai dan ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed) lebih stabil.
Indonesia juga memperoleh angin segar setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Hal ini membantu memperbaiki persepsi risiko investor global. Selain itu, Nafan juga mengatakan sejumlah harga komoditas strategis relatif bertahan sehingga menopang prospek emiten berbasis sumber daya alam.
Valuasi IHSG maupun banyak saham blue chip juga telah kembali berada pada level yang lebih menarik, yakni di bawah rata-rata historis lima hingga 10 tahun. Dalam skenario bullish dengan target realistis, Nafan memperkirakan IHSG pada 2026 berpotensi menguji level 6.666 pada skenario “wave C”.
Sementara itu, dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai level 7.320 atau target “wave 3”. “Sementara berdasarkan skenario pesimis, IHSG diperkirakan akan menguji ‘wave C/2’ di 5.486 sebagai target 2026,” tulis Nafan dalam analisisnya.
Kesimpulan, IHSG terus menguat pada perdagangan saham Senin, 20 Juli 2026, dengan saham BBCA dan BBRI menjadi buruan investor. IHSG ditutup naik 0,86 persen ke level 6.228. Penguatan IHSG didorong oleh kenaikan signifikan saham sektor perbankan serta sektor energi berkapitalisasi besar.











