Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Juli 2026 | Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan baru ke Iran sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal komersil lain di Selat Hormuz. Militer AS menargetkan 140 target di Iran yang menyasar lokasi rudal dan drone hingga tempat penyimpanan amunisi.
Militer AS telah menyerang lebih dari 300 target selama 3 malam. Target tersebut termasuk lokasi rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai.
Sementara itu, China juga memperlihatkan kemampuan pesawat tempur J-15T yang dapat membawa empat rudal antikapal YJ-83K. Ini menunjukkan kemampuan tempur yang lebih canggih dari sebelumnya.
TNI Angkatan Udara (TNI-AU) juga dikabarkan tertarik dengan pesawat tempur Dassault Rafale F5, varian terbaru dari keluarga Rafale. Rafale F5 dirancang memiliki lompatan kemampuan yang signifikan, mulai dari sistem peperangan elektronik yang lebih canggih, sensor dan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pilot mengambil keputusan di medan tempur.
Pilot jet tempur F-15E Amerika Serikat (AS) yang selamat setelah pesawatnya ditembak jatuh oleh Iran mengungkap pengalaman mengerikan saat menghadapi serangan drone Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Drone-drone Iran di udara terlihat seperti ladang ranjau yang siap menjebak dan menghancurkan target.
Kesaksian pilot tersebut menjadi salah satu fokus penyelidikan komunitas intelijen AS terkait penyebab jatuhnya pesawat tempur F-15E pada April lalu. Empat sumber pejabat intelijen AS mengatakan, pilot tersebut juga melihat drone-drone Iran bergerak serempak dalam formasi unik menyerupai ubur-ubur.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah juga mengumumkan pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos serta rudal udara-ke-udara Astra dari India, sebagai bagian dari penguatan kemampuan tempur lintas matra.
Kesimpulan dari serangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa perang modern telah menjadi semakin canggih dengan teknologi drone dan jet tempur yang memungkinkan serangan yang lebih presisi dan efektif. Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan negara-negara untuk mengembangkan teknologi yang lebih canggih dan berpotensi meningkatkan kemampuan tempur mereka.











