OLAHRAGA

Tendangan ‘Kungfu’ Fadly Alberto: Dari Garuda Muda ke Ancaman Larangan Tahun, Sponsor Putus dan Mediasi Klub

×

Tendangan ‘Kungfu’ Fadly Alberto: Dari Garuda Muda ke Ancaman Larangan Tahun, Sponsor Putus dan Mediasi Klub

Share this article
Tendangan 'Kungfu' Fadly Alberto: Dari Garuda Muda ke Ancaman Larangan Tahun, Sponsor Putus dan Mediasi Klub
Tendangan 'Kungfu' Fadly Alberto: Dari Garuda Muda ke Ancaman Larangan Tahun, Sponsor Putus dan Mediasi Klub

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 23 April 2026 | Insiden tendangan “kungfu” yang dilakukan oleh pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20, Fadly Alberto Hengga, pada laga Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 menimbulkan kegemparan luas di dunia sepak bola Indonesia. Aksi brutal tersebut tidak hanya mengakibatkan cedera pada pemain Dewa United U-20, namun juga memicu serangkaian sanksi disiplin, pemutusan hubungan sponsor, serta proses mediasi yang berujung pada permintaan maaf resmi.

Menurut pernyataan Exco PSSI Kairul Anwar pada 20 April, kasus Fadly telah masuk ke Komite Disiplin (Komdis) PSSI dan akan ditangani sesuai dengan Kode Disiplin PSSI 2025. Kairul menegaskan bahwa proses penyelidikan akan melibatkan seluruh pihak yang terlibat, termasuk ofisial, perangkat pertandingan, dan pemain. “Komdis tidak akan melihat siapa pemain ini, tapi siapa yang melakukan, pasti akan disanksi tegas,” ujarnya. Potensi sanksi yang dibicarakan mencakup larangan bermain selama satu tahun atau lebih, tergantung pada keputusan badan yudisial.

Di samping sanksi disiplin, tindakan Fadly juga berdampak pada karier internasionalnya. Coach Tim Nasional U-20, Nova Arianto, mengonfirmasi bahwa Fadly yang sebelumnya masuk dalam lima besar pemain terbaik Timnas U-20 telah dicoret dari skuad pada malam sebelumnya. Keputusan tersebut menandai berakhirnya harapan sang pemain muda untuk melanjutkan debut di panggung internasional, setelah sebelumnya dikenal lewat penampilan di Piala Dunia U-17.

Sponsor utama klub Bhayangkara Presisi Lampung FC juga mengambil langkah tegas dengan menangguhkan dukungan finansial mereka. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa perilaku tidak sportif dan kekerasan di lapangan tidak dapat diterima, terutama pada level pembinaan usia muda. Penangguhan sponsor menambah beban finansial klub pada saat yang sama klub harus menyiapkan prosedur internal untuk menangani pelanggaran kode etik.

Setelah insiden terjadi, Dewa United Development dan Bhayangkara Youth menggelar mediasi pada 23 April 2026 di Dewa United Arena, Tangerang. Direktur Akademi Dewa United Development, Firman Utina, menjelaskan bahwa pertemuan berlangsung kondusif dan menghasilkan kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Dalam proses mediasi, Fadly Alberto menyampaikan permintaan maaf kepada pemain yang terdampak, termasuk Rakha dan rekan-rekannya, serta kepada seluruh staf dan penonton yang menyaksikan aksi tersebut.

Firman menegaskan bahwa meskipun proses hukum dibatalkan, klub tetap akan menindaklanjuti pelanggaran yang terjadi. “Jika ada sesuatu yang melanggar kode etik dan indisipliner, maka itu akan ditindaklanjuti secepatnya,” ujarnya, mengutip arahan pimpinan klub Bhayangkara yang tidak dapat hadir dalam pertemuan. Kedua belah pihak sepakat untuk bersama-sama melindungi dan membimbing pemain muda, mengingat mereka merupakan aset penting bagi perkembangan sepak bola nasional.

Berbagai reaksi publik menggarisbawahi pentingnya penegakan disiplin di level junior. Pengamat sepak bola menilai bahwa contoh tegas terhadap Fadly Alberto dapat menjadi peringatan bagi pemain lain agar menjauhi tindakan kekerasan. Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan perlunya program edukasi karakter dan kontrol emosional dalam akademi sepak bola, agar insiden serupa tidak terulang.

Secara keseluruhan, kasus tendangan “kungfu” Fadly Alberto mencerminkan tantangan yang dihadapi PSSI dalam menegakkan standar sportivitas, serta menyoroti peran sponsor dan klub dalam menciptakan lingkungan kompetisi yang aman. Dengan potensi larangan bermain lebih dari satu tahun, pemutusan hubungan sponsor, serta mediasi yang menuntut pertanggungjawaban moral, nasib Fadly kini berada di persimpangan antara kesempatan perbaikan diri dan konsekuensi berat yang dapat mengakhiri kariernya.

Kesimpulannya, insiden ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia: disiplin, sportivitas, dan tanggung jawab moral tidak dapat dipisahkan dari ambisi prestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *