Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 April 2026 | Frank Lampard resmi dinobatkan sebagai Manajer Musim EFL Championship setelah memimpin Coventry City meraih promosi ke Liga Premier, mengakhiri penantian selama 25 tahun. Penghargaan yang diberikan pada upacara EFL Awards Minggu malam itu menegaskan keberhasilan tak terduga klub Sky Blues dalam satu kampanye yang konsisten mengalahkan tim-tim tradisional di divisi kedua Inggris.
Coventry City menutup musim dengan 86 poin, menyisakan tiga pertandingan lagi sambil terus memperkuat posisi puncak klasemen. Meskipun persaingan judul masih terbuka, pencapaian ini sudah cukup untuk menjamin tiket kembali ke level tertinggi sepakbola Inggris. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari filosofi Lampard yang menekankan kedisiplinan defensif, sistem pressing tinggi, serta kebersamaan antar pemain.
Dalam sambutan menerima penghargaan, Lampard mengungkapkan emosinya: “Saya sangat terharu karena menyadari apa yang telah kami capai. Klub yang saya masuki 16 bulan lalu berada di titik terendah, namun berkat dukungan pemilik Doug King, mantan manajer Mark Robins, serta kelompok pemain yang solid, kami kembali ke puncak.” Ia menambahkan bahwa pengalaman pahit sebagai pelatih interim di Chelsea pada 2023 menjadi motivasi untuk membuktikan diri di luar sorotan “Big Six”.
Selain Lampard, dua manajer lain juga menerima penghargaan pada malam yang sama. Michael Skubala terpilih sebagai Manajer Musim Liga One setelah mengubah Lincoln City menjadi tim paling tangguh secara taktis, sementara Andy Woodman dinobatkan Manajer Musim Liga Two berkat kebangkitan Bromley yang terus melaju setelah promosi historis ke Football League.
Pemain juga tak luput dari sorotan. Zan Vipotnik dan Josh Tymon, masing-masing berposisi penyerang dan sayap kanan di Swansea City, masuk dalam Tim Musim EFL Championship. Vipotnik, dengan 21 gol, menjadi pencetak gol terbanyak, sedangkan Tymon mencatat sembilan assist dan meraih penghargaan Goal of the Season berkat volé kaki kiri yang menakjubkan melawan Oxford United. Kedua pemain menegaskan tekad mereka untuk mengakhiri musim dengan tiga pertandingan terakhir yang kuat.
Sementara itu, drama di bagian bawah klasemen tak kalah menarik. West Bromwich Albion menghadapi ancaman pemotongan poin akibat dugaan pelanggaran aturan Profit & Sustainability (P&S) EFL. Klub mengklaim telah mematuhi semua ketentuan, namun EFL sedang meneliti pembayaran bunga sekitar £5 juta pada pinjaman pemilik sebelumnya, Guochuan Lai. Pada saat penulisan, Baggies berada di posisi ke‑20, lima poin di atas zona degradasi, dan berharap keputusan akhir dapat ditunda hingga musim depan.
Di ujung lain tabel, Wrexham terus mengejar tempat promosi, menjadikan perebutan tiket naik ke Liga Premier semakin menegangkan. Persaingan ketat di EFL Championship menampilkan kisah kebangkitan, konflik keuangan, dan penghargaan individu yang menambah warna musim 2025/2026.
Keseluruhan, musim ini mencerminkan dinamika EFL Championship yang penuh kejutan. Dari kebangkitan Coventry di bawah kepemimpinan Frank Lampard, penghargaan bagi manajer dan pemain terbaik, hingga pergulatan keuangan West Brom, semua elemen tersebut memperkaya narasi kompetisi yang terus menarik perhatian penggemar sepakbola di seluruh dunia.











