Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada Rabu, 17 Agustus 2026. Stabilitas pasar keuangan domestik tertekan karena sejumlah bank besar menetapkan harga jual dolar AS mendekati level Rp18.000.
Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA mencatatkan kenaikan kurs jual dolar AS untuk transaksi nasabah pada pembukaan pagi ini. Berikut ini daftar harga dolar AS di beberapa bank tersebut.
PT Bank Mandiri Tbk (Persero) mengacu pada data terbaru, kurs beli USD (E-Rate) berada di level Rp17.720 dengan kurs jual Rp17.750. Sementara untuk kategori TT Counter/Bank Notes, dipatok pada kisaran Rp17.500 (beli) dan Rp17.800 (jual).
BNI menetapkan kurs beli USD (E-Rate) di level Rp17.737 kurs jual Rp17.777. Untuk transaksi melalui TT Counter/Bank Notes, harga beli berada di Rp17.550 dan harga jual menyentuh Rp17.800.
BRI mematok kurs beli USD (E-Rate) sebesar Rp17.740 dengan kurs jual Rp17.760. Sedangkan pada posisi TT Counter/Bank Notes, angkanya berada di level Rp17.575 (beli) dan Rp17.850 (jual).
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga menetapkan harga yang hampir sama dengan bank-bank lainnya.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar adalah yang paling menjadi highlight di berita nasional hingga mancanegara baik melalui media cetak, televisi hingga media online. Pada titik terlemahnya, Rupiah sempat menyentuh level Rp18.190,30 per 1 USD.
Pemerintah merespon dengan cepat dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter sehingga Bank Indonesia pun bergerak cepat menerapkan strategi moneternya untuk menjaga nilai rupiah.
Bank Indonesia mengumumkan 7 langkah menjaga stabilitas rupiah, mulai dari memperkuat intervensi di pasar valuta asing, penguatan arus modal, dan koordinasi fiskal-moneter, hingga penjagaan likuiditas perbankan yang tetap longgar dan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik.
Rupiah menunjukkan tren penguatan dalam beberapa terakhir hingga posisi Sabtu, 13 Juni 2026 sudah menyentuh Rp17.779,30 per 1 USD. Hal ini tentunya menjadi kabar menggembirakan bagi Indonesia yang sedang mengalami shocks beberapa waktu terakhir.
Namun, lagi-lagi upaya Bank Sentral perlu didukung oleh pemerintah dan masyarakat luas. Salah satu hal yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat adalah tidak panic buying, terutama dalam hal pembelian mata uang asing.
Dalam beberapa waktu terakhir, banyak informasi berita bahwa money changer mengalami kenaikan permintaan atas valas, khususnya USD. Jika masyarakat bisa menahan diri dan tidak panik untuk menukarkan uang rupiahnya ke USD, maka dari hal kecil tersebut dapat menjadi dukungan atas kebijakan pemerintah sehingga rupiah tetap bisa kembali menguat.
Hal kecil jika dilakukan secara bersama dan massif tentunya akan membuahkan hasil, terlebih dalam hal kita sebagai masyarakat yang menjaga Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa sebagaimana tertulis dalam Undang-undang No.7 tahun 2011 tentang Mata Uang.
Kesimpulan dari pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar adalah bahwa pemerintah dan Bank Indonesia telah bergerak cepat untuk menerapkan strategi moneternya untuk menjaga nilai rupiah. Namun, upaya ini perlu didukung oleh masyarakat luas dengan tidak melakukan panic buying dan mempertahankan kepercayaan terhadap Rupiah sebagai mata uang negara.









