Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 10 Juni 2026 | Pasar saham Indonesia menunjukkan penguatan setelah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 7,57% menjadi 5.746,64 pada Selasa (9/6/2026).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Menurutnya, kebijakan tersebut turut memperkuat IHSG serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa pihaknya bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) terus mencermati situasi saat ini. OJK juga mencatat 65 emiten telah membantu stabilisasi pasar dan telah menyiapkan dana buyback saham tanpa RUPS senilai Rp65,34 triliun sejak Maret 2025 hingga 18 Mei 2026.
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla menilai kondisi pelemahan daya beli masyarakat tidak bisa diukur dari ramainya pusat perbelanjaan atau mal. Indikator ekonomi riil harus dilihat lebih dalam, termasuk aktivitas di pasar tradisional hingga pola konsumsi masyarakat.
JK mengatakan bahwa ramainya mal juga belum tentu menjadi tanda ekonomi masyarakat dalam kondisi baik. Masyarakat datang ke mal bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk makan, berjalan-jalan, hingga mencari tempat yang sejuk dan nyaman.
Sementara itu, pasar riil atau pasar fisik sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut JK, indikasi melemahnya ekonomi juga bisa terlihat dari meningkatnya angka kriminalitas yang dipicu pengangguran dan sulitnya masyarakat memperoleh pekerjaan.
Kesimpulan: Penguatan pasar saham Indonesia setelah kenaikan BI Rate merupakan dampak positif terhadap perekonomian. Namun, perlu diingat bahwa indikator ekonomi riil harus dilihat lebih dalam untuk mengetahui kondisi daya beli masyarakat yang sebenarnya.









