Nasional

Dosen UNSRI Ungkap Risiko Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu, Alasan Utama Tak Layak Dikonsumsi

×

Dosen UNSRI Ungkap Risiko Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu, Alasan Utama Tak Layak Dikonsumsi

Share this article
Dosen UNSRI Ungkap Risiko Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu, Alasan Utama Tak Layak Dikonsumsi
Dosen UNSRI Ungkap Risiko Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu, Alasan Utama Tak Layak Dikonsumsi

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Sejumlah pejabat dan pakar menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang ditangkap di perairan DKI Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi manusia karena mengandung logam berat berbahaya. Dosen Universitas Sriwijaya (UNSRI) menambahkan bahwa kandungan logam tersebut dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bila masuk ke rantai makanan.

Operasi penangkapan serentak pada Jumat, 17 April 2026, berhasil menangkap sekitar 6,98 ton ikan sapu-sapu di berbagai titik perairan Jakarta. Dari total tersebut, sebanyak 68.880 ekor diproses dengan cara dibelah dua dan dikubur di lokasi yang telah ditentukan untuk mencegah penyelewengan hasil tangkapan.

Kepala Seksi Perikanan Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan, Arief Prakoso, menjelaskan prosedur penguburan tersebut bertujuan memastikan tidak ada pedagang yang menyalahgunakan ikan yang seharusnya dimusnahkan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menambahkan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar mengandung logam berat dengan kadar rata‑rata melebihi 0,3 mg/kg, angka yang dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia. “Jika ikan ini dijadikan tepung ikan, logam berat dapat masuk ke hewan ternak, kemudian ke manusia melalui konsumsi produk hewani,” ujar Pramono pada kunjungan ke kawasan Jakarta Utara.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Haeru Rahayu, menegaskan bahwa bahkan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak atau bahan baku pembuatan tepung ikan tetap berisiko tinggi karena residu logam berat yang sulit dihilangkan selama proses pengolahan.

Berikut adalah alasan utama mengapa ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi, dirangkum dalam bentuk poin:

  • Kandungan logam berat (mercury, timbal, dan arsenik) melebihi batas maksimum yang ditetapkan oleh standar keamanan pangan.
  • Risiko bioakumulasi logam berat dalam rantai makanan, yang dapat menimbulkan gangguan pada sistem saraf, ginjal, dan organ vital lainnya.
  • Populasi ikan sapu-sapu yang bersifat invasif mengancam keberlangsungan spesies ikan lokal dan menurunkan kualitas ekosistem perairan.
  • Pengolahan menjadi tepung ikan tidak dapat menurunkan kadar logam berat secara signifikan, sehingga tetap menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia dan hewan.

Selain dampak kesehatan, ikan sapu-sapu juga menimbulkan masalah ekologi. Spesies ini, yang asalnya dari Amerika Selatan, mampu bertahan di perairan yang minim oksigen, memakan alga, lumut, telur, serta ikan kecil, sehingga menurunkan kualitas air dan mengurangi populasi ikan asli.

Penelitian internasional menunjukkan bahwa di negara‑negara seperti Iran dan Bangladesh, ikan sapu-sapu telah menyebabkan penurunan drastis pada keanekaragaman ikan lokal. Di Jakarta, dampak serupa terlihat pada penurunan populasi wader dan penurunan kualitas habitat perairan.

Untuk jangka panjang, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menyatakan rencananya melibatkan akademisi dalam mencari teknologi pengendalian yang lebih efektif. “Tahapan jangka panjang akan melibatkan akademisi untuk menemukan solusi berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Kesimpulannya, kombinasi kandungan logam berat tinggi, potensi bioakumulasi, serta dampak ekologis menjadikan ikan sapu-sapu tidak layak untuk dikonsumsi manusia maupun hewan. Upaya penangkapan, pembunuhan, dan penguburan massal merupakan langkah darurat untuk melindungi kesehatan publik dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *