Pendidikan

SNBT 2026: Apa yang Anak Butuhkan dari Orang Tua dan Bagaimana Proses Seleksinya?

×

SNBT 2026: Apa yang Anak Butuhkan dari Orang Tua dan Bagaimana Proses Seleksinya?

Share this article

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Juni 2026 | Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 telah usai dan pengumuman hasilnya telah dilakukan. Banyak peserta yang merayakan keberhasilan mereka, namun ada juga yang merasa kecewa dengan hasilnya. Menurut Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, yang paling penting bukan sekadar bagaimana orang tua merayakan keberhasilan anak, melainkan bagaimana mendampingi anak dalam menghadapi hasil apa pun yang diterima.

Madeline menekankan bahwa anak yang diterima di perguruan tinggi impian tentu menjadi pencapaian yang layak dirayakan. Namun, setelah euforia tersebut berlalu, ada bekal lain yang tak kalah penting untuk dipersiapkan, terutama jika anak akan memasuki dunia perkuliahan. Orang tua dapat mulai membantu anak mengembangkan self-regulated learning atau kemampuan mengatur diri dalam proses belajar.

Menurut Madeline, kemampuan ini mencakup menetapkan tujuan, mengelola waktu, memantau perkembangan belajar, hingga melakukan evaluasi diri tanpa harus terus-menerus diawasi. Hal ini menjadi semakin penting jika anak akan kuliah di luar kota dan tinggal sendiri di kos atau asrama. Ketika jauh dari rumah, tantangan yang dihadapi bukan hanya akademik, tetapi juga kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua dapat mulai membekali anak dengan berbagai keterampilan dasar, seperti mengatur jadwal kuliah, tugas, organisasi, dan waktu istirahat, termasuk menjaga pola makan dan kesehatan. Mereka juga perlu mengajarkan anak untuk mengelola keuangan bulanan dan mengajarkan life-skill aktivitas rumah tangga seperti mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar, memasak, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, tidak semua anak mendapatkan hasil yang diharapkan. Saat menghadapi kondisi ini, Madeline mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan nasihat atau mencari sisi positif dari kegagalan tersebut. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan menerima emosi yang sedang dirasakan anak. Rasa sedih, kecewa, marah, atau frustrasi merupakan respons yang wajar setelah melalui proses persiapan yang panjang.

Setelah kondisi emosinya mulai lebih stabil, orang tua dapat mulai mengajak anak berbicara mengenai langkah berikutnya. Panitia SNPMB juga menjelaskan bahwa proses seleksi SNBT 2026 tidak menetapkan skor rata-rata, melainkan menggunakan skor per subtes yang akan ditentukan bobotnya berdasarkan prodi yang dipilih. Hal ini membuat nilai rata-rata tinggi tidak menjamin kelulusan seorang peserta.

Peserta dengan nilai matematika lebih tinggi akan diuntungkan saat memilih program studi yang mengedepankan penalaran matematik. Pihak panitia juga melakukan perincian skor saintek dan soshum untuk materi literasi dalam bahasa Indonesia. Kebijakan pemisahan nilai tersebut didasarkan pada hasil evaluasi pelaksanaan ujian pada tahun lalu.

Dalam proses seleksi SNBT 2026, panitia SNPMB melakukan validasi ulang jawaban per soal dan melakukan scoring yang mana tim scoring sendiri tidak mengetahui nama dan nomor peserta yang di-scoring. Proses pembobotan dilakukan berdasarkan ranking dan dikerjakan oleh tim yang berbeda. Dengan demikian, sistem penilaian SNBT 2026 diharapkan dapat berjalan dengan adil dan transparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *