OLAHRAGA

Cristian Chivu Siapkan Sejarah Baru Inter Milan, Meniru Jejak Fabio Capello di Serie A

×

Cristian Chivu Siapkan Sejarah Baru Inter Milan, Meniru Jejak Fabio Capello di Serie A

Share this article
Cristian Chivu Siapkan Sejarah Baru Inter Milan, Meniru Jejak Fabio Capello di Serie A
Cristian Chivu Siapkan Sejarah Baru Inter Milan, Meniru Jejak Fabio Capello di Serie A

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 14 April 2026 | Manajer Inter Milan yang berusia 45 tahun, Cristian Chivu, semakin dekat mencetak prestasi langka dalam debut penuh musim Serie A pertamanya. Menggantikan Simone Inzaghi pada musim panas lalu, bek asal Rumania ini berhasil menata tim Nerazzurri menjadi pemuncak klasemen dengan selisih sembilan poin dari Napoli setelah kemenangan dramatis 4-3 melawan Como.

Keberhasilan Chivu tak lepas dari perbandingan historis dengan Fabio Capello, pelatih legendaris yang pada 1991/92 mengantarkan AC Milan meraih gelar Serie A pada musim pertamanya. Lebih dari tiga dekade kemudian, Chivu berada di jalur yang sama, berpotensi menjadi manajer pertama dalam era modern yang mengulang pencapaian serupa bagi Inter Milan. Jika Inter menutup kompetisi dengan gelar, nama Chivu akan bergabung dalam daftar eksklusif yang hanya dihuni oleh Capello.

Meski belum memiliki pengalaman mengelola tim senior secara luas, Chivu telah menunjukkan kecerdasan taktik dan kepemimpinan yang kuat selama masa transisinya di Parma pada 2024/25. Di Inter, ia berhasil menyeimbangkan gaya permainan defensif yang disiplin dengan serangan yang produktif, menciptakan skuad yang disebut “Fantastic Seven” karena kemampuan mencetak gol yang melampaui kebanyakan tim Serie A lainnya.

Sementara itu, pujian tak hanya datang dari media Italia. Manajer Panathinaikos, yang sebelumnya pernah mengawasi Chivu di level internasional, menilai sang Romawi layak mendapatkan kredit utama atas kebangkitan Inter. Ia menekankan bahwa Chivu tidak sekadar meniru taktik, melainkan menanamkan budaya kemenangan yang menginspirasi pemain untuk memberikan yang terbaik di setiap laga.

Namun, perjalanan musim ini tidak sepenuhnya mulus. Inter mengalami beberapa kekalahan penting, termasuk eliminasi dari Liga Champions oleh Bodo/Glimt, yang memicu kritik mengenai kurangnya inovasi taktik dibandingkan era Inzaghi. Kritik tersebut diperparah oleh penampilan kurang meyakinkan pada pertandingan-pertandingan besar, di mana Inter terkadang tampak terlalu bergantung pada pertahanan tanpa menghasilkan peluang yang cukup.

Dalam pertandingan melawan Como, Inter sempat tertinggal dua gol dan harus bermain tanpa kapten serta pencetak gol terbanyak, Lautaro Martínez. Meskipun begitu, keberanian Yann Sommer di gawang dan semangat juara para pemain mengubah keadaan, menghasilkan comeback yang menegangkan. Kemenangan itu tidak hanya mempertegas posisi Inter di puncak klasemen, tetapi juga menegaskan karakter tim yang mampu bangkit dari situasi sulit.

Persaingan di puncak Serie A tetap ketat. Napoli, yang sempat mendekat pada beberapa kesempatan, kini tertinggal jauh setelah kekalahan di Parma. Juventus, di sisi lain, terus menambah tekanan dengan performa konsisten mereka. Namun, dengan hanya enam pertandingan tersisa, Inter memiliki peluang besar untuk menutup musim dengan gelar ke-21 mereka.

Di luar lapangan, Chivu tetap menegaskan pentingnya integritas pribadi dalam dunia sepak bola. Ia pernah menyatakan, “Anda bisa memakai ribuan topeng, memilih untuk tidak memakainya adalah keberanian sejati.” Sikap ini tercermin dalam pendekatan manajerialnya yang menekankan kejujuran, kerja keras, dan komitmen terhadap klub.

Jika Inter berhasil mengamankan gelar Serie A pada akhir musim, pencapaian Chivu akan menjadi bukti bahwa pengalaman sebagai pemain kelas dunia dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan taktis yang efektif. Lebih dari sekadar meniru Capello, Chivu akan menulis bab baru dalam sejarah Inter Milan, mengukir nama sebagai manajer muda yang berhasil menaklukkan tantangan terbesar di Italia.

Dengan sisa pertandingan yang masih menegangkan, mata para pendukung dan analis sepak bola tetap tertuju pada langkah akhir Chivu. Apakah ia akan menutup musim dengan trofi, atau harus menunggu kesempatan berikutnya? Satu hal pasti, keberanian dan dedikasinya telah mengubah persepsi tentang apa yang mungkin dicapai oleh seorang manajer pertama kali di Serie A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *