Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 02 Juni 2026 | Fenomena Mas Bahlil Ganteng telah menjadi contoh bagaimana sarkasme di media sosial dapat berubah menjadi alat penguatan citra politik. Awalnya, lagu tersebut banyak dipahami sebagai bentuk sindiran terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Namun, seiring berjalannya waktu dan tingginya tingkat penyebaran di media sosial, makna kritik yang terkandung di dalamnya perlahan memudar.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai fenomena tersebut menunjukkan cara kerja algoritma media sosial yang mampu mengubah kritik menjadi popularitas. Menurut Fajar, sarkasme yang direpetisi berulang-ulang justru melahirkan banalitas, yang tadinya tajam, menjadi biasa, yang tadinya menggigit, kini hanya jadi earworm yang muncul di kepala saat diam-diam.
Respons santai yang ditunjukkan Bahlil dan Partai Golkar turut memperkuat efek tersebut. Alih-alih menolak atau melawan narasi yang muncul, mereka memilih merangkul meme yang beredar sehingga citra Bahlil menjadi lebih dekat dengan publik. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai lagu Mas Bahlil Ganteng yang belakangan viral di jejaring media sosial berpotensi mendongkrak raihan suara Partai Golkar pada Pemilu 2029 mendatang.
Adi mengatakan, viralnya lagu MBG ini awalnya memang merupakan sindiran terhadap kinerja pemerintah, termasuk Bahlil Lahadila sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, Golkar dan Bahlil dianggap berhasil memanfaatkan situasi tersebut hingga menjadi fenomena yang positif. Ia menilai jika fenomena ini bisa dikapitalisasi secara optimal, maka bukan tidak mungkin raihan suara Partai Golkar di berbagai daerah meroket pada Pemilu 2029.
Kesimpulan dari fenomena Mas Bahlil Ganteng ini adalah bahwa sarkasme di media sosial dapat berubah menjadi alat penguatan citra politik jika dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi politisi dan partai politik untuk memahami cara kerja algoritma media sosial dan memanfaatkan fenomena seperti ini untuk meningkatkan citra mereka di mata publik.











