Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 30 Mei 2026 | Di Kota Surabaya, bioskop-bioskop menawarkan berbagai film terbaru, dari drama hingga horor. Namun, di balik layar lebar, terdapat kisah tentang kekuasaan, ketakutan, dan pengkhianatan. Gubernur Jawa Timur yang terpasung dalam sistem lama, takut pada segelintir elite yang kepentingannya terganggu oleh reformasi.
Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Kepemudaan dan Keolahragaan yang digadang-gadang sebagai jalan reformasi, dikabarkan sedang menemui jalan buntu. Bukan karena tidak baik secara substansi, bukan karena bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi, melainkan karena ada kekuatan besar yang menolaknya.
Kekuatan itu bukan berasal dari rakyat, bukan dari atlet, bukan dari pelatih. Kekuatan itu berasal dari mereka yang selama ini menikmati kenyamanan sistem lama: sistem di mana uang rakyat mengalir deras tetapi tak jelas ujungnya, sistem di mana organisasi lebih dilindungi daripada atlet, sistem di mana akuntabilitas dianggap sebagai ancaman dan transparansi dianggap sebagai musuh.
Yang paling meresahkan, Gubernur Jawa Timur—pemegang otoritas tertinggi pemerintahan daerah, representasi negara yang sah—dikabarkan tidak bisa berbuat apa-apa. Gubernur disebut “takut”. Takut pada siapa? Takut pada apa? Apakah Gubernur, yang dipilih oleh jutaan rakyat, yang diambil sumpahnya di bawah kitab suci, yang digaji dengan uang pajak rakyat, bisa takut pada segelintir elite yang kepentingannya terganggu oleh reformasi?
Jika kabar ini benar, maka kita sedang menyaksikan sebuah tragedi politik yang mendalam: seorang pemimpin yang kehilangan kedaulatannya sendiri. Dan di balik tragedi ini, ada pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menuntut kita untuk berpikir lebih radikal tentang hakikat kekuasaan, tanggung jawab moral, dan masa depan olahraga sebagai proyek kemanusiaan.
Fenomenologi Ketakutan: Apa yang Membuat Gubernur Takut? Untuk memahami situasi ini, kita perlu melakukan semacam “fenomenologi ketakutan”. Apa sebenarnya yang membuat seorang Gubernur—yang memiliki wewenang formal begitu besar—bisa “takut” dan “tidak bisa berbuat apa-apa”?
Dalam tradisi filsafat politik, Thomas Hobbes berbicara tentang Leviathan, negara yang kuat yang diperlukan untuk mengatasi “perang semua melawan semua” dalam keadaan alamiah. Namun, dalam kasus ini, kita tidak melihat negara yang kuat, melainkan seorang pemimpin yang lemah dan takut.
Kesimpulan dari kisah ini adalah bahwa kekuasaan dan ketakutan dapat menjadi musuh utama bagi seorang pemimpin. Ketakutan pada segelintir elite dapat membuat seorang pemimpin kehilangan kedaulatannya sendiri dan tidak dapat melakukan apa-apa untuk rakyatnya. Oleh karena itu, kita perlu memikirkan lebih radikal tentang hakikat kekuasaan, tanggung jawab moral, dan masa depan olahraga sebagai proyek kemanusiaan.