Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 April 2026 | Pelatih asal Italia Gian Piero Gasperini kini berada di titik terendah kariernya bersama AS Roma. Sejak awal musim 2025/26, Giallorossi mengalami penurunan performa yang signifikan, memicu spekulasi, keresahan fans, dan konflik internal yang semakin memanas.
Dalam dua pekan terakhir, Roma kalah telak 0-5 dari Inter Milan, menelan kekalahan 2-2 melawan Juventus meski sempat unggul dua kali, serta terpuruk 1-3 atas Bologna yang mengakibatkan tim tereliminasi dari Liga Europa. Hasil-hasil ini menambah beban mental pemain dan menimbulkan kritik keras dari kelompok pendukung, yang bahkan menuntut Gasperini mengundurkan diri.
Tekanan eksternal tidak berhenti di situ. Pada 18 April 2026, Gasperini mengundurkan diri dari konferensi pers di tengah laga krusial melawan Atalanta setelah mengungkapkan keretakan hubungannya dengan Claudio Ranieri, penasihat senior klub. Gasperini meneteskan air mata, mengaku terkejut dengan pernyataan Ranieri yang menyebutnya sebagai pilihan keempat pada musim panas lalu. Ia menegaskan bahwa ia selalu mengikuti keputusan medis, terutama terkait cedera pemain sayap Wesley yang menjadi perdebatan antara staf medis dan manajemen.
Ketegangan dengan Ranieri bukan satu-satunya sumber konflik. Gasperini juga harus menghadapi perbedaan pandangan dengan staf medis mengenai kebugaran pemain, serta tekanan dari direksi yang menuntut pergerakan transfer cepat. Dalam sebuah pernyataan, Ranieri menilai Gasperini kurang terlibat dalam keputusan transfer, sementara Gasperini bersikukuh bahwa ia telah menyetujui setiap langkah yang diambil.
Fans Roma, yang dikenal dengan sebutan “Romanisti”, semakin tak sabar. Pada 7 April 2026, mereka menggelar aksi protes menuntut pemecatan Gasperini setelah kekalahan telak melawan Inter. Keluhan mereka tidak hanya tentang hasil akhir, melainkan juga tentang gaya permainan yang dianggap terlalu defensif dan kurang kreativitas, berbeda dengan filosofi Gasperini yang terkenal dengan pola serangan tinggi di Atalanta.
Meski berada di posisi keenam klasemen Serie A, Roma masih berjarak tiga poin dari Juventus yang menempati posisi keempat. Untuk lolos ke Liga Champions, Roma harus meraih rangkaian kemenangan beruntun. Gasperini sendiri menekankan pentingnya konsistensi dan mengingatkan bahwa tim masih memiliki potensi jika semua elemen bekerja selaras.
Berikut rekap singkat hasil Roma dalam enam pekan terakhir:
- 14 Apr 2026: Roma 0-5 Inter Milan (kalah telak)
- 13 Apr 2026: Roma 2-2 Juventus (seri, menahan keunggulan)
- 12 Apr 2026: Roma 1-3 Bologna (kalah, tereliminasi Liga Europa)
- 07 Apr 2026: Roma vs Inter (kalah, memicu protes fans)
- 06 Apr 2026: Roma 0-0 Juventus (pertandingan tanpa gol)
- 02 Mar 2026: Roma 2-2 Juventus (seri, menahan unggulan)
Selain masalah di dalam lapangan, Gasperini masih mengingat masa kejayaannya di Atalanta. Dalam konferensi pers terakhir, ia membandingkan atmosfer kerja di Bergamo yang solid dengan situasi Roma yang kini terasa terpecah. Ia menyoroti kebijakan klub Atalanta yang menyeimbangkan keuangan dengan prestasi Eropa, sesuatu yang ia harapkan dapat terwujud kembali di Roma.
Ke depan, Roma berencana mengincar bek sayap dari Inter Milan sebagai prioritas utama dalam bursa transfer. Namun, proses tersebut masih terhambat oleh negosiasi yang rumit serta persetujuan dari Ranieri yang tampaknya semakin skeptis terhadap kebijakan Gasperini.
Dengan tekanan yang terus meningkat, Gasperini harus menemukan cara untuk menenangkan hubungan internal, memulihkan kepercayaan fans, dan mengembalikan performa tim ke jalur kemenangan. Jika gagal, kemungkinan besar ia akan menghadapi akhir masa jabatan yang singkat di Trigoria.
Kesimpulannya, masa depan Gian Piero Gasperini di AS Roma bergantung pada kemampuan mengatasi konflik internal, menyesuaikan taktik dengan kebutuhan tim, serta mengembalikan semangat juang kepada pemain dan pendukung. Hanya waktu yang akan menjawab apakah ia berhasil mengubah krisis menjadi peluang untuk kembali ke Liga Champions.











