BERITA

Netanyahu Minta AS Batasi Waktu Negosiasi Damai Israel-Lebanon

×

Netanyahu Minta AS Batasi Waktu Negosiasi Damai Israel-Lebanon

Share this article
Netanyahu Minta AS Batasi Waktu Negosiasi Damai Israel-Lebanon
Netanyahu Minta AS Batasi Waktu Negosiasi Damai Israel-Lebanon

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 Mei 2026 | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan rapat bersama kabinet keamanannya pada Selasa malam, pertemuan pertama kali sejak muncul laporan tentang kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sedang berkembang. Kesepakatan tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Israel yang secara pribadi menganggapnya sebagai ide yang buruk.

Netanyahu mengadakan pembicaraan tersebut bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dan Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir di markas Kementerian Pertahanan di Tel Aviv. Pertemuan ini juga berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran di Lebanon akan serangan yang lebih luas oleh militer Israel.

Meskipun Netanyahu menghindari kritik publik terhadap Presiden AS Donald Trump, dua sumber Israel mengatakan bahwa dalam diskusi pribadi, ia mengakui memiliki pengaruh terbatas terhadap pengambilan keputusan Washington dan negosiasi dengan Iran. Kesepakatan yang sedang dirancang, menurut para pejabat Israel saat ini, tidak menjawab kekhawatiran utama Israel tentang program nuklir Iran dan persediaan uranium yang diperkaya.

Selain itu, Iran dilaporkan berupaya memperkuat gencatan senjata di Lebanon, sementara Hizbullah telah mengintensifkan serangan drone harian terhadap pasukan Israel. Netanyahu menghadapi tekanan yang semakin besar baik dari para rival politik maupun anggota koalisinya sendiri.

Gadi Eizenkot, mantan kepala staf IDF yang kini memimpin partai yang bertujuan untuk menggantikan Netanyahu setelah pemilihan berikutnya, menggambarkan situasi tersebut tidak menguntungkan Israel. “(Situasi itu) gencatan senjata paksa, dengan syarat yang tidak menguntungkan bagi Israel, yang membahayakan penduduk di wilayah utara dan tentara IDF,” ujarnya.

Sekutu politik sayap kanan Netanyahu, menteri Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, sama-sama menyerukan respons militer yang lebih agresif. Ben Gvir mendesak Netanyahu untuk menghadapi Trump dan menegaskan negara Israel tidak dapat mentolerir hal ini. Sementara Smotrich berpendapat bahwa "ancaman strategis tidak dijawab hanya dengan pertahanan, tetapi dengan mengubah aturan dan persamaannya."

Di tengah kritik tersebut, Netanyahu mengeluarkan pernyataan video pada Senin yang menyatakan bahwa IDF akan mengintensifkan serangannya di Lebanon, menyusul serangan drone besar-besaran oleh Hizbullah sepanjang hari. Amerika Serikat dan Iran kini membahas garis besar kesepakatan damai untuk mengakhir perang.

Bahkan, ketika armada AS menyerang kapal pemasang ranjau Iran di Selat Hormuz, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap optimistis bahwa perdamaian tinggal menghitung hari. Di sisi lain, perkembangan situasi ini memicu gelombang kekhawatiran, kekecewaan, dan kemarahan yang meluas di Israel.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Februari lalu, saat keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran bersama Israel dipuji banyak pihak sebagai puncak kejayaan karier politik dan diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, tiga bulan berlalu, rezim di Tehran rupanya masih kokoh berdiri.

Trump kini justru berbalik mengejar kesepakatan baru demi membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker minyak. Langkah ini dinilai mengorbankan kepentingan keamanan Israel. Kritik pedas dari dalam negeri Israel pun tak terhindarkan.

Kolumnis Ben Caspit menyoroti kegagalan strategi Netanyahu. Alih-alih menghancurkan program nuklir Iran seperti yang dijanjikan, dampak perang dan rencana gencatan senjata ini justru berisiko mempercepatnya. “Kesepakatan yang muncul ini jauh lebih buruk daripada yang sebelumnya,” tulis Ben Caspit.

Kekhawatiran ini diperparah oleh dampak gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama perang berlangsung. Di satu sisi, pembunuhan itu menyingkirkan sosok yang mendirikan program nuklir. Namun di sisi lain, hal itu juga menghilangkan figur yang selama ini menahan Iran untuk tidak melangkah ke fase akhir pembuatan senjata nuklir.

Kesimpulan, situasi di Timur Tengah kini semakin kompleks dengan kemajuan kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang menyebabkan kekhawatiran di Israel tentang keamanan dan pengaruhnya terhadap wilayah. Netanyahu dan pemerintah Israel harus mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi perubahan situasi ini dan memastikan keamanan nasional Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *