Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 Mei 2026 | Baru-baru ini, militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah kehilangan hingga 30 unit drone MQ-9 Reaper sejak awal konflik dengan Iran. Jumlah tersebut hampir mencapai seperlima dari seluruh armada pra-perang Washington dengan nilai kerugian mendekati USD1 miliar (Rp16,2 triliun). Sebagian besar drone tersebut hancur atau rusak parah akibat tembakan dari pihak Iran.
MQ-9 Reaper merupakan pesawat nirawak yang mampu melakukan misi pengintaian sekaligus serangan. Satu unit drone ini diperkirakan berharga lebih dari USD30 juta (Rp486 miliar). Produsennya, General Atomics, telah menghentikan produksi model ini tahun lalu, meskipun varian lain masih diproduksi untuk pelanggan asing.
Insiden kehilangan drone ini tidak hanya terjadi di Iran, tetapi juga di tempat lain. Salah satu insiden yang menarik perhatian adalah kejadian di Austria, di mana seorang paraglider nyaris tewas setelah parasutnya ditabrak oleh sebuah pesawat kecil. Parasut korban hancur terbelah menjadi dua bagian, namun posisinya masih terikat pada harness.
Sementara itu, di Indonesia, Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara meningkatkan kemampuan perang dan kesiapan operasional prajurit melalui latihan terjun payung freefall yang digelar di kawasan Bandara Supadio, Kalimantan Barat. Latihan ini merupakan bagian dari program pembinaan rutin prajurit berkualifikasi freefall di lingkungan Korpasgat TNI AU guna menjaga kesiapan tempur dan profesionalisme personel.
Dalam kesimpulan, kehilangan drone MQ-9 Reaper oleh militer AS merupakan kerugian yang signifikan, tidak hanya dari segi materiil tetapi juga dari segi strategis. Sementara itu, insiden di Austria menunjukkan bahaya yang mengancam keselamatan udara, dan latihan Korpasgat TNI AU menunjukkan upaya untuk meningkatkan kemampuan perang dan kesiapan operasional prajurit.











