Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 Mei 2026 | Geng motor kembali menjadi perhatian di berbagai daerah di Indonesia. Konvoi liar di jalan raya, aksi kekerasan, hingga keterlibatan dalam tindak kriminal membuat masyarakat semakin khawatir. Di balik kesan solidaritas dan gaya hidup jalanan yang mereka tampilkan, ada persoalan yang lebih serius, yaitu keterkaitan sebagian kelompok dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Persoalan ini juga berkaitan dengan meningkatnya kasus kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika yang semakin menyasar usia muda. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan juvenile delinquency atau kenakalan remaja, yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan anak muda dan bertentangan dengan norma sosial maupun hukum.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, video geng motor membawa senjata tajam (sajam) viral di media sosial. Polisi mengamankan lima orang remaja dalam aksi itu yang diduga melakukan penyerangan. Kapolsek Makassar Kompol Mustari mengatakan kelima pelaku diamankan Unit Opsnal Polsek Makassar di rumahnya masing-masing di wilayah Kota Makassar.
Sementara itu, di Tangerang, tiga anggota geng motor pelaku pembacokan terhadap dua remaja di Flyover Taman Cibodas ditangkap polisi. Aksi kekerasan pada 13 Mei 2026 tersebut dipicu rasa tersinggung pelaku setelah korban diduga memelototi mereka saat berkendara.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa geng motor dan kekerasan jalanan merupakan ancaman bagi generasi muda. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan yang efektif untuk mengatasi masalah ini.
Dalam konteks geng motor, kenakalan remaja bukan lagi sekadar pelanggaran ringan, melainkan juga mulai mengarah pada kekerasan, penyalahgunaan narkotika, hingga keterlibatan dalam tindak kriminal terorganisasi. Masalah ini tentu tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan biasa.
Yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah semakin mudahnya remaja terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang negatif tanpa disadari oleh keluarga maupun lingkungan sekitar. Perubahan perilaku, kebiasaan menyendiri, emosi yang tidak stabil, hingga mulai tertutup terhadap orang tua sering kali menjadi tanda awal yang kerap diabaikan.
Jika tidak dikenali sejak dini, kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi anak untuk terlibat dalam kekerasan jalanan, penyalahgunaan narkotika, maupun perilaku menyimpang lainnya. Di tengah perkembangan digital saat ini, remaja juga semakin mudah terpapar berbagai pengaruh dari media sosial dan lingkungan pergaulan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan yang efektif untuk mengatasi masalah geng motor dan kekerasan jalanan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya geng motor dan kekerasan jalanan, serta memperkuat kerja sama antara pihak kepolisian, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk mencegah dan menanggulangi masalah ini.











