Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 Mei 2026 | Belakangan ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada beberapa isu terkait energi dan transportasi. Salah satunya adalah rencana pemberian subsidi untuk kendaraan listrik, terutama motor listrik, yang ditargetkan untuk 100.000 unit dengan total anggaran Rp 500 miliar. Namun, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memandang bahwa subsidi tersebut lebih baik jika dialihkan untuk transportasi umum, seperti bus listrik, karena akan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno, menyatakan bahwa subsidi untuk bus listrik akan lebih bermanfaat karena dapat membenahi transportasi umum di 10 kota dengan anggaran yang sama. Setiap kota dapat membangun 3-5 koridor angkutan umum dengan 8-10 armada bus, yang dapat mengangkut ribuan orang. Ini tidak hanya mengurangi beban negara terhadap subsidi BBM jangka panjang tetapi juga memberikan alternatif mobilitas yang murah dan berkualitas kepada masyarakat.
Di sisi lain, tren motor listrik meningkat di Indonesia, terutama karena harga BBM non-subsidi yang relatif tinggi. CEO ALVA, Purbaja Pantja, menyatakan bahwa pertumbuhan minat masyarakat terhadap motor listrik bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan pergerakan yang berkelanjutan untuk masa depan industri otomotif nasional. ALVA telah memperluas jaringan pengisian daya untuk mengatasi kekhawatiran tentang jarak tempuh dan kehabisan daya.
Namun, kebijakan subsidi motor listrik dinilai kurang tepat sasaran karena tidak menyentuh akar kebutuhan dasar mobilitas publik masyarakat. Sebuah analisis menyatakan bahwa anggaran Rp 500 miliar dapat digunakan untuk membenahi sistem transportasi di 10 kota, memberikan manfaat yang lebih luas dan efektif dalam mengurangi beban negara terhadap subsidi BBM dan memberikan alternatif mobilitas yang murah dan berkualitas.
Insiden pemadaman listrik massal di Pulau Sumatra juga menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat dan sektor ekonomi. KNPI mendesak Presiden Prabowo untuk melakukan evaluasi total terhadap jajaran direksi PT PLN atas kegagalan sistem kelistrikan nasional. Bareskrim Polri juga melakukan investigasi terhadap kerusakan kabel Sutet yang menyebabkan pemadaman listrik.
Dalam konteks transportasi, KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line Jabodetabek merupakan salah satu moda transportasi umum yang penting. Rute dan tarif KRL terus diperbarui untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, masih ada kebutuhan untuk memperbaiki dan memperluas jaringan transportasi umum untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan mengatasi masalah kemacetan serta polusi udara.
Kesimpulan, kebijakan energi dan transportasi di Indonesia perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang lebih luas dan berkelanjutan. Subsidi untuk transportasi umum, seperti bus listrik, dapat memberikan manfaat yang lebih signifikan daripada subsidi untuk kendaraan listrik pribadi. Perluasan jaringan pengisian daya dan modernisasi transportasi umum juga penting untuk mendukung transisi energi yang lebih bersih dan efisien.











